JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP — Tradisi dan spiritualitas berpadu dalam satu panggung budaya di Desa Bringsang, Kecamatan Giligenting, Kabupaten Sumenep.
Pemerintah Desa Bringsang akan menggelar acara besar bertajuk Tasyakuran Desa dan Petik Laut Sekaligus Haul Para Guru Ngaji, pada Jumat, 25 April 2025 atau bertepatan dengan 26 Syawal 1446 H.
Acara yang akan dimulai pukul 13.00 WIB setelah salat Jumat ini dipusatkan di Simpang Tiga H. Nasir, Jalan Raya Bringsang Dusun Dadap.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam kesempatan istimewa ini, Pemerintah Desa Bringsang menghadirkan KH. Munawwir Assadilih ulama karismatik asal Jember yang akrab disapa Kyai Ramuk Segoro sebagai penceramah utama.
Kepala Desa Bringsang, Ahmad Muzakki, menyebutkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan bentuk rasa syukur masyarakat pesisir atas berkah laut dan jasa para guru ngaji yang telah menanamkan nilai-nilai Islam sejak masa lampau.
“Kami ingin menyatukan penghormatan terhadap guru-guru ngaji kami dengan ritual petik laut sebagai bentuk rasa syukur warga Bringsang kepada Allah SWT atas hasil laut yang melimpah,” ujar Ahmad Muzakki kepada media ini, Jum’at (25/04/2025).
Menurutnya, perpaduan antara spiritualitas, budaya, dan kekayaan alam adalah warisan leluhur yang harus terus dijaga dan dilestarikan. Karena itulah, undangan pun disebarluaskan ke berbagai pihak, termasuk Camat Giligenting, tokoh pemuda dan tokoh masyarakat lainnya.
“Petik laut sendiri merupakan tradisi maritim masyarakat Madura yang sarat makna dimulai dengan doa bersama, pemberkatan hasil laut, hingga larung sesaji sebagai simbol pengembalian sebagian rezeki ke alam semesta,” jelasnya.
Sementara haul para guru ngaji menjadi momentum sakral untuk mengenang dan mendoakan para pengajar Al-Qur’an yang telah wafat, sebagai bentuk penghormatan dan ikhtiar memperpanjang amal jariyah mereka.

Ahmad Muzakki menambahkan bahwa acara ini juga menjadi wahana memperkuat ikatan sosial warga serta mempererat hubungan antar generasi.
“Semoga kegiatan ini menjadi titik temu antara langit dan laut, antara doa dan budaya, antara masa lalu dan masa depan,” pungkasnya penuh harap.
Rangkaian kegiatan ini terbuka untuk umum, dan dipastikan akan menjadi peristiwa budaya-religius yang menggugah dan mempererat solidaritas masyarakat kepulauan. (REDJAVA****)










