JAVANETWORK.CO.ID, SUMENEP – Di sudut selatan Kabupaten Sumenep, tepatnya di Pulau Giligenting, malam tidak lagi sekadar gelap.
Ia telah menjelma menjadi kekhawatiran kolektif, ketidakpastian yang menghantui, dan amarah yang perlahan membara.
Sejak akhir Ramadan 2025, krisis listrik melanda pulau ini tanpa henti membuat warga terjebak dalam gulita yang belum menemukan ujung.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemadaman bergilir yang semula dijanjikan berakhir pada 16 April ternyata masih berlangsung hingga Rabu (23/4/2025).
Biangnya: kerusakan mesin pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), satu-satunya sumber energi yang menopang kehidupan di pulau tersebut.
“Kami seperti ditinggalkan. Listrik mati, sinyal hilang, pelayanan publik lumpuh. Ini bukan hanya soal kenyamanan, tapi menyangkut kelangsungan hidup,” ujar Hendi, seorang mahasiswa asal Giligenting yang tengah pulang kampung merayakan bulan Syawal kepada media ini, Rabu (23/04/2025).
Ironisnya, tim teknisi dari PT PLN (Persero) baru tiba di lokasi pada 15 April, hampir dua pekan sejak pemadaman dimulai. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda pulihnya pasokan energi.
Menurut informasi dari warga, kerusakan pada mesin PLTD memerlukan penanganan di luar pulau, bahkan harus dibawa ke Surabaya.
“Banyak warga yang menggelar hajatan. Ini Syawal, mas. Pernikahan, acara keluarga semuanya terganggu. Tapi yang kami sesalkan, kenapa tidak ada antisipasi darurat?” tambah Hendi, dengan nada kecewa.
Krisis ini tidak hanya menyasar sektor rumah tangga. Menara telekomunikasi Telkomsel tak lagi stabil, memutus komunikasi dengan dunia luar.
Puskesmas pun terganggu pelayanannya, terutama bagi pasien yang membutuhkan peralatan medis berbasis listrik.
Namun, bagi warga yang telah terlalu lama hidup dalam ketidakpastian, janji tinggal janji. Mereka menuntut lebih dari sekadar perbaikan sementara.
Yang mereka inginkan adalah jaminan: bahwa hak mereka untuk hidup layak tidak akan kembali direnggut oleh kelambanan sistem.
“Kami bukan menuntut keajaiban. Kami hanya ingin diperlakukan sebagai warga negara yang punya hak yang sama atas layanan publik,” pungkas Hendi.
Kepala PLN ULP Sumenep, Pangky Yonkynata Ardiyansyah, saat dikonfirmasi, menyatakan bahwa pemulihan ditargetkan rampung pada 26 April.
“Insya Allah tanggal 26 April listrik di sana akan kembali normal mas,” ujarnya singkat. (REDJAVA****)








