JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di balik pesona sejarah dan kebudayaan Sumenep, tersimpan kisah para ulama tarbawi yang telah mendedikasikan hidup mereka untuk melestarikan Al-Qur’an. Dari tangan mereka, mushaf-mushaf Al-Qur’an ditulis dengan penuh ketekunan, tafsir-tafsir disusun dengan kedalaman ilmu, dan lantunan ayat suci menggema di langit Bumi Sumekar.
Jejak ini kini terdokumentasi dalam sebuah buku karya Iwan Kuswandi, yang mengangkat kiprah ulama Al-Qur’an di Sumenep dalam empat kategori: penyalin mushaf, mufassir, kaligrafer, dan akademisi. Buku ini menjadi saksi bagaimana Al-Qur’an tidak hanya dihafal dan dibaca, tetapi juga dikaji, ditulis, dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Sejarah mencatat, Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I (1762-1811), Raja Sumenep ke-32, pernah menyalin mushaf Al-Qur’an hanya dalam waktu sehari semalam. Sebuah pencapaian luar biasa yang mencerminkan kecintaan mendalam terhadap Al-Qur’an. Hingga kini, mushaf tersebut masih tersimpan di Museum Sumenep, menjadi bukti betapa eratnya hubungan kerajaan dengan syiar Islam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak hanya Sultan Abdurrahman, ada nama-nama lain yang mengabadikan Al-Qur’an dalam bentuk tulisan tangan, seperti Kiai Nur Ali, Kiai Abdul Ghaffar, dan Kiai Samman. Mereka bukan sekadar penulis, melainkan penjaga cahaya Al-Qur’an yang memastikan generasi mendatang tetap mengenali jejak-jejak kebesaran kitab suci.
Dalam ranah tafsir, Sumenep memiliki sosok luar biasa seperti Kiai Thaifur Ali Wafa, yang menulis tafsir lengkap 30 juz berjudul Firdaus al-Na’im. Kitab tafsir ini menjadi pedoman bagi umat Islam, khususnya masyarakat Madura, yang ingin memahami Al-Qur’an lebih dalam. Setiap bulan, kitab ini dikaji di Kantor PCNU Sumenep, memperkaya wawasan keislaman masyarakat.
Selain Kiai Thaifur, masyayikh Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk juga turut berkontribusi. KH Ahmad Basyir, KH Abdul Basith (penulis tafsir surat Yasin), KH Sa’di Amir, dan KH Muhsin Amir adalah beberapa nama yang mengukir keabadian Al-Qur’an melalui goresan pena mereka.
Di bidang seni khat, nama Kiai Hatim Asham Tibyan dan Kiai Bastami Tibyan bersinar terang. Dua bersaudara ini mengajarkan kaligrafi di pesantren yang berbeda, memastikan seni menulis Al-Qur’an tetap hidup di Sumenep.
Sementara itu, dalam dunia akademik, KH Moh Tidjani Djauhari dan KH Ghazi Mubarak mengukir prestasi dengan menempuh pendidikan hingga ke jenjang doktoral di bidang tafsir Al-Qur’an. Tak ketinggalan, KH A Busyro Karim dan KH Jamaluddin Kafie turut memberikan sumbangsih lewat penerjemahan dan kajian ilmiah mereka.
Di ranah tahfidh, nama-nama seperti Kiai Abdullah A Zaini dan para ustadz penghafal Al-Qur’an terus melahirkan generasi pecinta Al-Qur’an. Mereka mendirikan pesantren tahfidh, membina santri, hingga menjadi juri di berbagai kompetisi tahfidh nasional dan internasional.
Sumenep juga dikenal dengan qari’-qari’ unggulannya. Nama-nama seperti Kiai Zarkasyi Rahiem, Ustadz Dasuki Yahya, Ustadz Abdul Jalil, hingga Ustadzah Sunniyah telah membawa lantunan ayat suci ke panggung nasional dan internasional. Suara mereka tak hanya indah, tetapi juga mampu menggugah hati siapa pun yang mendengarnya.
Keberadaan ulama-ulama ini menjadi bukti bahwa Sumenep adalah tanah yang diberkahi. Al-Qur’an tidak sekadar dibaca, tetapi juga dikaji, ditulis, dilantunkan, dan diajarkan dengan penuh cinta. Buku yang mengabadikan perjalanan mereka bukan sekadar catatan sejarah, tetapi juga sumber inspirasi bagi generasi mendatang.
Di tengah arus modernisasi, Sumenep tetap menjaga tradisi keislaman yang kuat. Para ulama, akademisi, dan santri terus merawat cahaya Al-Qur’an, memastikan bahwa setiap hurufnya tetap hidup dalam hati umat Islam. Karena bagi mereka, melestarikan Al-Qur’an bukan sekadar tugas, tetapi juga kehormatan yang diwariskan dari generasi ke generasi. (REDJAVA****)









