JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di tengah derasnya arus kehidupan yang penuh tantangan, Keraton Langit kembali menyuarakan pesan moral yang menggugah jiwa: Tetap Tegar, Apapun yang Terjadi.
Pesan ini bukan sekadar slogan, tetapi sebuah ajakan spiritual dari Kiai Abdul Adhim, pengasuh Keraton Langit, agar masyarakat tetap teguh menghadapi ujian hidup dengan ketabahan dan keyakinan.
Dalam perbincangan eksklusif, Kiai Abdul Adhim mengungkapkan bahwa tiga kekuatan utama harus menjadi pegangan dalam menghadapi badai kehidupan, yaitu Doa Guru, Doa Leluhur, dan Shalawat Nabi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, doa adalah benteng spiritual yang dapat menuntun setiap insan agar tidak goyah dalam menghadapi cobaan.
“Santri harus kuat, petani harus gigih. Kita ini keturunan pejuang, tidak boleh mudah menyerah. Jangan sampai doa guru dan leluhur kita sia-sia hanya karena kita lemah menghadapi ujian kecil,” tegasnya.
Pesan lain yang tak kalah menarik dalam pamflet yang kini viral adalah semboyan “Pantang Mundur Santun Juga Bisa Galak”.
Kiai Abdul Adhim menegaskan bahwa kesantunan bukan berarti kelemahan, dan ketegasan bukan berarti kebrutalan.
“Santun itu penting, tapi kalau ada kebenaran yang harus diperjuangkan, kita tidak boleh diam. Kebaikan harus dipertahankan, ketidakadilan harus dilawan, tentu dengan cara yang beradab dan penuh kebijaksanaan,” jelasnya.
Sebagai pemimpin spiritual, Kiai Abdul Adhim juga menyinggung makna semboyan “Saya Santri, Saya Petani”. Baginya, santri dan petani adalah dua pilar utama yang mencerminkan kerja keras dan ketekunan.
“Santri bukan hanya mereka yang mengaji di pesantren, tapi siapa saja yang mau terus belajar. Dan petani adalah simbol kesabaran, sebab menanam butuh proses, dan panen butuh waktu. Jangan terburu-buru ingin hasil, semua ada jalannya,” ungkapnya.
Dengan semboyan “Mengubah Tanah Menjadi Emas”, Keraton Langit ingin menginspirasi masyarakat agar tidak mudah putus asa dalam menghadapi kehidupan. Setiap orang punya potensi besar yang bisa diwujudkan, asalkan memiliki niat dan tekad yang kuat.
“Kita ini hidup di tanah yang subur, baik secara lahir maupun batin. Kalau kita rawat dengan baik, kita akan melihat bagaimana tanah ini benar-benar bisa menjadi emas,” pungkas Kiai Abdul Adhim. (REDJAVA****)









