Air Mata Guru Honorer di Tanah Madura, Said Abdullah : Ketukan Nurani untuk Kita Semua

- Redaksi

Selasa, 28 Januari 2025 - 19:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Banggar DPR RI Didampingi Istri Tercinta Saat Memberikan Bantuan Kepada Guru Honorer Yang Mengalami Tindak Pidana Kekerasan di Pulau Kangean

Ketua Banggar DPR RI Didampingi Istri Tercinta Saat Memberikan Bantuan Kepada Guru Honorer Yang Mengalami Tindak Pidana Kekerasan di Pulau Kangean

JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Dalam kabut duka yang menyelimuti Sumenep, Madura, terselip kisah yang menggugah hati.

Muhammad Noeruddin (52), seorang guru honorer yang telah mengabdikan dirinya selama 30 tahun, menjadi korban kekerasan yang menyayat nurani.

Nasibnya menjadi potret buram perjuangan seorang pendidik di tengah keterbatasan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, MH Said Abdullah, mengungkapkan rasa keprihatinan mendalam atas insiden yang menimpa Noeruddin.

Ia menilai kejadian ini adalah cermin dari realitas pahit yang dialami guru honorer di tanah air.

“Pak Nurdin ini telah mengabdikan hidupnya untuk pendidikan selama tiga dekade. Saya terenyuh melihat kondisinya. Pendapatan guru honorer itu sangat minim, bahkan sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kasus ini bukan hanya tentang kekerasan, tetapi juga soal bagaimana kita memperlakukan mereka yang seharusnya menjadi pahlawan tanpa tanda jasa,” kata Said Abdullah, Selasa (28/1/2028), di Gedung Putih Sumenep.

Politisi senior kebanggaan Sumenep itu menegaskan bahwa perhatian dan empati publik tidak cukup berhenti pada santunan sesaat.

Baca Juga :  Senam Sehat Ceria RT 03/RW 02 Desa Kebunan: Warga Sumenep Tetap Fit dan Guyub Setiap Minggu Pagi

Ia mendesak pemerintah daerah, khususnya Bupati Sumenep, untuk mencari solusi jangka panjang yang dapat mengubah nasib para guru honorer seperti Noeruddin.

“Oleh karena itu, saya mengimbau kepada pemerintah daerah, carilah jalan keluar. Apa yang bisa dilakukan untuk memberikan harapan dan kepastian bagi beliau dan guru-guru lainnya. Kita tidak boleh membiarkan ini berlalu begitu saja,” tegas Said.

Kejadian ini juga menjadi pengingat bahwa Madura sering dikaitkan dengan stereotip kekerasan.

“Kita harus menunjukkan bahwa Madura adalah tanah yang damai. Kekerasan tidak menyelesaikan masalah, justru merusak citra kita sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai harmoni,” imbuhnya.

Ketua DPP PDI-P Jawa Timur juga memberikan apresiasi kepada Polres Sumenep yang bergerak cepat menangani kasus ini.

Baca Juga :  Dalam Rangka Hari Anak Internasional PAUD Budi Luhur Paberasan Adakan GPRI, Kades Rachman Saleh Sebut Generasi Penerus Bangsa Yang Siap Mental

Pelaku berinisial AQ (19), warga Dusun Bugis, Desa Pajanangger, Kecamatan Arjasa, kini telah diamankan. AQ dijerat dengan sejumlah pasal, termasuk Pasal 406 KUHP tentang pengrusakan barang dan Pasal 2 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang kepemilikan senjata tajam tanpa izin.

Dalam pertemuan itu, Said Abdullah tidak hanya datang membawa kata-kata.

Ia menyalurkan bantuan berupa satu unit sepeda motor Honda Beat dan uang tunai Rp15 juta kepada Noeruddin.

Namun, ia menggarisbawahi bahwa bantuan tersebut bukanlah solusi permanen.

“Ini bentuk kepedulian saya sebagai anak Madura, tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita semua, termasuk pemerintah daerah, merumuskan kebijakan yang bisa memastikan kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” ujarnya.

Kisah Muhammad Noeruddin adalah simbol perjuangan seorang guru yang sering kali terabaikan.

Baca Juga :  Estafet Komando, Simfoni Pengabdian: AKBP Rivanda Resmi Jabat Kapolres Sumenep Gantikan AKBP Hendri Noveri Santoso

Ia menjadi saksi hidup bahwa dunia pendidikan di Indonesia masih penuh dengan tantangan.

“Semoga kita semua dijauhkan dari kekerasan, terutama terhadap guru. Mari kita jadikan peristiwa ini pelajaran untuk lebih peduli kepada mereka yang telah mengorbankan hidupnya demi mencerdaskan anak bangsa,” pungkas Said.

Insiden yang terjadi pada Senin (13/1/2028) di Kecamatan Arjasa ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap guru honorer, terdapat cerita pengabdian yang penuh peluh dan air mata.

Kini, harapan Noeruddin dan ribuan guru honorer lainnya ada di tangan kita: apakah kita memilih peduli atau membiarkan mereka terus melangkah sendiri di tengah badai kehidupan. (REDJAVA****)

Follow WhatsApp Channel javanetwork.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

BERITA TERKAIT

Kakanwil Ditjenpas Jatim Kusnali Sambangi Rutan Sumenep, Kejar Paket hingga Batik Catra Tuai Apresiasi
Disdik Sumenep Dorong Dongeng Jadi Senjata Pendidikan Karakter Anak Sejak Dini
Bersama Kita Bisa Tasyakuran HUT RI ke-81, Pesan Kuat Bapenda Sumenep di Tengah Perjuangan Kejar Target PAD
PK PMII STAIM Bagikan Merah Putih, Kobarkan Nasionalisme: Kemerdekaan Tak Boleh Berhenti di Seremoni
Personel Yonif TP 931/KJ Hadirkan Semangat Kemerdekaan di MI Miftahun Najah Sumenep
154 Warga Binaan Rutan Sumenep Terima Remisi HUT ke-81 RI, 2 Langsung Bebas
75 Paskibraka Sumenep Sukses Kawal HUT ke-81 RI, Honor Cair dan Evaluasi Besar Disiapkan
Camat Pragaan Pimpin Upacara HUT ke-81 RI, Kobarkan Nasionalisme dan Perkuat Kebersamaan Warga

BERITA TERKAIT

Rabu, 16 September 2026 - 08:22 WIB

Kakanwil Ditjenpas Jatim Kusnali Sambangi Rutan Sumenep, Kejar Paket hingga Batik Catra Tuai Apresiasi

Minggu, 13 September 2026 - 23:59 WIB

Disdik Sumenep Dorong Dongeng Jadi Senjata Pendidikan Karakter Anak Sejak Dini

Senin, 17 Agustus 2026 - 23:59 WIB

Bersama Kita Bisa Tasyakuran HUT RI ke-81, Pesan Kuat Bapenda Sumenep di Tengah Perjuangan Kejar Target PAD

Senin, 17 Agustus 2026 - 23:59 WIB

PK PMII STAIM Bagikan Merah Putih, Kobarkan Nasionalisme: Kemerdekaan Tak Boleh Berhenti di Seremoni

Senin, 17 Agustus 2026 - 22:32 WIB

Personel Yonif TP 931/KJ Hadirkan Semangat Kemerdekaan di MI Miftahun Najah Sumenep

BERITA TERBARU