JAVANETWORK.CO.ID SUMENEP – Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI ke-79 merupakan momentum hari yang sangat bersejarah bagi rakyat bangsa dan negara Indonesia untuk memperingati hari tersebut.
Namun balik itu, tidak selaras atau berbanding terbalik dengan hari yang ditunggu para petani tembakau Madura, khususnya petani di Kabupaten Sumenep dan sekitarnya.
Hal itu disampaikan aktivis senior, Ketua LSM FPMJT Bambang Supratman kepada media ini pada hari Senin 19 Agustus 2024.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia mengatakan dimana harga tembakau sebelum tanggal 17 banyak gudang tembakau dan para juragan tembakau berkata mau membeli habis tembakau para petani di Sumenep.
“Namun paska dihari HUT Kemerdekaan RI ke-79, tepatnya tanggal 18 Agustus kemarin, masyarakat dilanda kegalauan mencekam,” kata Bambang Supratman menerangkan.
Hal itu dikatakan Bambang disebabkan panen tembakau petani tidak laku, apalagi diterpa isu dan informasi permintaan gudang yang konon katanya PT Jarum tidak mau membeli hasil panen kering tembakau.
“Ditambah lagi dikarenakan bibit tembakaunya adalah bibit Opout dan diduga juga masuknya tembakau Jawa, sehingga menambah kegalauan dan gundah gulana para petani di Sumenep,” ungkapnya.
Dari harga yang tidak stabil hingga dibumbui pemberitaan yang disampaikan pengusaha tembakau asal Kabupaten Pamekasan yang akan membeli tembakau seharga 80 perkilogram.
“Namun faktanya yang ada, dibawah para bandul-bandul membelinya dikisaran harga 50 hingga 65 tertinggi kepada para petani tembakau,” terang Bambang sapaannya.
Bahkan kata Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Front Pembela Masyarakat Jatim (FPMJT) Bambang Supratman menyebut informasi diterima dirinya tembakau kering petani dibeli seharga 40 perkilogram.
Masyarakat Sumenep, khususnya para petani tembakau menyayangkan sekali tingkat kelarisan tembakau kering tahun 2024 beda jauh dengan panen tembakau di tahun 2023.
“Sesungguhnya ini ada apa. Ini menjadi pertanyaan besar bagi saya khususnya dan petani tembakau lain pada umumnya. Apa ada permainan oknum juragan tembakau yang memprovokasi atau memonopoli,” tegasnya.
Lebih lanjut, dirinya sangat berharap kepada pemerintah Kabupaten, khususnya DKPP dan Disperindag UMK Sumenep untuk memfasilitasi kepada pihak pabrikan bagaimana harga tembakau di Sumenep stabil.
Selain itu pihaknya juga meminta Paguyuban Pelopor Petani dan Pedagang Tembakau Madura (P4MT) untuk mengevaluasi ulang terkait harga pembelian tembakau tahun ini serta pihak kepolisan untuk mengantisipasi masuknya dugaan tembakau Jawa ke Sumenep.
“Jadi harapan saya selaku salah satu petani tembakau di Desa Talang, Kecamatan Saronggi dan mungkin juga mewakili para petani tembakau yang ada di Sumenep meminta peran aktif Pemerintah Kabupaten dalam menstabilkan harga tembakau,” pungkasnya. (REDJAVA****)








