JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP — Pemerintah Kabupaten Sumenep bersiap membawa insiden tumpahan minyak mentah kelapa sawit (crude palm oil/CPO) di perairan utara Pulau Gili Iyang ke level provinsi. Bupati Sumenep Dr. H. Achmad Fauzi Wongsojudo, S.H., M.H. menegaskan, penanganan pencemaran laut tersebut tidak bisa ditunda karena berpotensi menjadi bencana lingkungan berskala luas.
“Peristiwa tumpahan CPO ini bukan insiden biasa, melainkan ancaman serius terhadap ekosistem laut dan keselamatan ekonomi masyarakat pesisir,” kata Bupati Fauzi dalam keterangan tertulis, Sabtu (24/1/2026).
Menurut sosok orang nomor wahid di lingkungan Pemkab Sumenep menegaskan Pemkab Sumenep akan segera melaporkan secara resmi kejadian tersebut kepada Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur, mengingat kewenangan pengelolaan laut dan mitigasi pencemaran berada di tingkat provinsi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kewenangan pengelolaan wilayah laut berada di pemerintah provinsi, sehingga laporan resmi akan kami sampaikan agar penanganan dilakukan secara komprehensif dan terukur,” tegasnya.
Bupati Fauzi menekankan, tumpahan CPO yang terus meluas di perairan Gili Iyang berpotensi merusak sistem ekologis laut dalam waktu singkat. Lapisan minyak sawit mentah yang mengapung dapat menghambat masuknya cahaya matahari dan pertukaran oksigen di laut.
“Jika dibiarkan, lapisan CPO ini bisa memicu hipoksia yang mematikan ikan, kerang, dan biota laut lainnya,” ujar Bupati Fauzi.
Ketua DPC PDI-P Sumenep juga mengingatkan bahwa dampak pencemaran tidak hanya berhenti pada rusaknya lingkungan, tetapi juga akan menghantam langsung mata pencaharian masyarakat pesisir.
“Nelayan akan menjadi pihak pertama yang merasakan dampaknya, karena laut adalah sumber hidup mereka,” jelas dia.
Selain ekosistem laut terbuka, Fauzi menyebut kawasan pesisir seperti mangrove dan terumbu karang berada dalam risiko tinggi akibat sifat lengket CPO yang mudah menempel dan sulit dibersihkan secara alami.
“Minyak sawit mentah bisa merusak akar mangrove dan terumbu karang, dan ini dampaknya bisa berlangsung bertahun-tahun,” ungkap Bupati Fauzi.
Atas kondisi tersebut, Pemkab Sumenep mengimbau masyarakat, khususnya warga pesisir Pulau Gili Iyang, untuk meningkatkan kewaspadaan dan membatasi aktivitas di sekitar area terdampak.
“Kami meminta masyarakat tidak mendekati area tumpahan untuk sementara waktu demi menjaga keselamatan dan kesehatan bersama,” tandasnya.
Sebagaimana diketahui, tumpahan puluhan ton CPO di perairan Sumenep terjadi setelah kapal tongkang Indo Oncean Marine yang mengangkut minyak sawit mentah kandas dan mengalami kebocoran di pesisir utara Pulau Gili Iyang. Hingga Sabtu (24/1/2026), kapal tersebut masih dilaporkan tersangkut di atas karang, menyebabkan minyak terus keluar dari badan kapal.
Tumpahan CPO tidak hanya mencemari garis pantai, tetapi juga menggumpal di perairan tengah laut. Memasuki hari kedua, gumpalan minyak sawit mentah tersebut terbawa arus dan angin ke arah timur Pulau Gili Iyang, memperluas wilayah pencemaran dan meningkatkan kekhawatiran akan dampak ekologis yang lebih besar. (REDJAVA/$$$)









