JAVANETWORK.CO.ID SUMENEP – Sebuah gelombang spiritual dan kebudayaan kembali menggema dari pesisir selatan Pulau Giligenting. Selasa malam, 29 April 2025, ribuan jiwa diperkirakan akan memadati kawasan Tase’ Lembenâ, Desa Gedugan, Kecamatan Giligenting, dalam sebuah pengajian akbar penuh makna bertajuk “Tasyakkuran Tase’ Lembenâ.”
Pengajian ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan sebuah pengakuan bersama bahwa laut adalah guru, ibu, dan ruang suci tempat kehidupan masyarakat pesisir bersandar.
Ia adalah ruang di mana peluh, doa, dan harapan menyatu dalam hembusan angin dan gelombang yang tak pernah diam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dihadirkan sebagai penceramah utama, Habib Abdullah Al Muhdor dari Probolinggo, seorang da’i yang telah lama membersamai komunitas santri dan nelayan di berbagai wilayah pesisir Jawa dan Madura, dipercaya akan menabur hikmah dan menyiram batin yang haus akan makna.
Suara lantunan sholawat, gemuruh ombak, dan nyanyian angin laut akan menjadi latar harmoni yang mengiringi pertemuan spiritual ini.
Ribuan jamaah dari berbagai desa, termasuk dari kepulauan sekitar, diperkirakan akan berduyun-duyun datang, bahkan sejak sore hari, dengan perahu-perahu kecil maupun besar.
Acara ini diinisiasi oleh Kelompok Nelayan Parjughe, komunitas yang tidak hanya berjuang di lautan, tetapi juga menjaga tradisi, nilai, dan solidaritas antarwarga.
Kelompok ini dikenal aktif menggerakkan kegiatan keagamaan, sosial, dan budaya berbasis laut.
H. Rusnan, Kepala Desa Gedugan, menyampaikan bahwa Tasyakkuran Tase’ Lembenâ adalah wujud peradaban masyarakat maritim yang menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual dan gotong royong.
“Setiap kali kita turun ke laut, kita tidak hanya menggantungkan hidup, tetapi juga menggantungkan harapan. Tase’ Lembenâ adalah wujud syukur atas setiap embusan angin, setiap ikan yang ditarik, dan keselamatan yang kita terima. Maka kami ajak seluruh warga menyatu dalam doa dan kebersamaan,” ujarnya kepada media ini, Selasa (29/04/2025) malam.
Sementara itu, Niadi, Ketua Kelompok Nelayan Parjughe, menegaskan bahwa acara ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga bentuk konsolidasi sosial, spiritual, dan budaya.
Warga desa dari lintas profesi nelayan, penjual ikan, pembuat jaring, ibu rumah tangga, pemuda, hingga santri turut terlibat dalam persiapan dan pelaksanaan acara secara gotong royong.
“Kami ingin laut bukan hanya menjadi sumber ekonomi, tapi juga menjadi pusat spiritual. Di sinilah kami hidup, dan di sinilah kami bersujud,” ucap Niadi.
Momentum ini juga memperkuat semangat kolektivitas masyarakat Giligenting dalam menghadapi berbagai tantangan dari cuaca ekstrem, fluktuasi hasil tangkapan, hingga tekanan pembangunan yang kadang mengabaikan ekosistem laut.
Tasyakkuran menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah komunitas tidak hanya terletak pada fisik, tetapi pada nilai-nilai luhur yang diwariskan lintas generasi.
Warga setempat bahkan telah menyiapkan berbagai sajian khas pesisir seperti nasi gurih laut, ikan bakar hasil tangkapan hari itu, serta minuman tradisional untuk para tamu yang datang.
Anak-anak tampak berlatih memainkan rebana, sementara kaum ibu sibuk menata tempat duduk di atas pasir dengan alas tikar dan daun kelapa.
Kegiatan yang digelar malam ini dipastikan akan menjadi penanda spiritualitas bahari yang langka.
Sebuah perjamuan jiwa di tepi samudra, saat manusia, laut, dan Tuhan bertemu dalam satu kesadaran: rasa syukur yang mendalam.
Dan di antara pelita yang menyala di perahu-perahu kecil, barisan doa mengalun, melintasi gelombang, menyatu dengan semesta. (REDJAVA****)









