JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di balik tembok Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Sumenep, denyut pelestarian budaya Madura terus bergema. Senin (12/1/2026), Rutan Sumenep menggelar pembinaan kesenian saronen, musik tradisional khas Madura, sebagai bagian dari pembinaan kepribadian bagi warga binaan.
Kegiatan ini bukan sekadar latihan musik, melainkan ruang pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kebersamaan. Warga binaan tampak antusias mengikuti setiap tahapan pembinaan, mulai dari pengenalan alat musik, teknik dasar permainan, hingga latihan irama yang menuntut kekompakan dan konsentrasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pembinaan kesenian saronen tersebut dipandu langsung oleh Petugas Pembina Kepribadian Rutan Sumenep, Jupriyanto, yang secara intensif membimbing warga binaan memahami nilai seni sekaligus filosofi budaya Madura yang terkandung di dalamnya.
Kepala Rutan Sumenep, Aditya Wahyu Rahmadani, menegaskan bahwa pembinaan berbasis seni dan budaya memiliki peran penting dalam proses pemasyarakatan yang humanis dan berkelanjutan.
“Kami ingin pembinaan di Rutan Sumenep tidak hanya berorientasi pada kedisiplinan, tetapi juga membangun karakter dan kepercayaan diri warga binaan. Kesenian saronen menjadi media yang efektif untuk menanamkan nilai kebersamaan sekaligus melestarikan budaya Madura,” ujar Aditya.
Menurutnya, pendekatan pembinaan yang menyentuh sisi emosional dan kreativitas warga binaan terbukti mampu menciptakan suasana pembinaan yang lebih positif dan produktif.
“Harapannya, keterampilan seni yang diperoleh selama di rutan ini bisa menjadi bekal berharga saat mereka kembali ke masyarakat, sekaligus menjadi identitas positif yang mereka banggakan,” tambahnya.
Melalui pembinaan kesenian saronen, Rutan Sumenep menunjukkan bahwa proses pemasyarakatan tidak semata-mata soal menjalani hukuman, tetapi juga tentang menyiapkan manusia yang lebih baik, berdaya, dan berakar pada nilai budaya lokal. (REDJAVA/$$$)









