JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP — Sebuah survei yang dirilis oleh media daring rilpolitik.com menyebutkan bahwa 80,4 persen warga Sumenep tidak puas terhadap kinerja 100 hari pertama Bupati Achmad Fauzi dan Wakil Bupati Imam Hasyim.
Klaim tersebut langsung menyita perhatian publik dan menjadi perbincangan hangat, bahkan viral layaknya kabar selebritas yang kepergok buang air di hotel tentu, setelah “berbagi kamar kecil” dengan orang lain.
Namun, angka fantastis itu justru mengundang respons kritis dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari Ketua IBM Foundation, Bambang Supratman, yang menilai survei tersebut problematik sejak dari sumber hingga substansinya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Media rilpolitik.com adalah media oposisi yang kerap menyebarkan informasi tanpa verifikasi menyeluruh, namun langsung dipercaya publik sebagai kebenaran mutlak,” ujar Bambang, Kamis (26/6/2024).
Ia menyoroti bahwa angka 80,4 persen itu tampak lebih seperti propaganda daripada hasil survei ilmiah. Alih-alih memberikan klarifikasi atau metodologi yang transparan, media tersebut tidak mencantumkan informasi dasar yang lazimnya wajib ada dalam survei yang kredibel.
“Tidak ada nama lembaga surveinya, tidak ada afiliasi akademik, tak ada CV institusi, nama penanggung jawab, bahkan jumlah responden pun tak disebut. Ini seperti menerima diagnosa penyakit berat dari ‘dokter’ yang tidak punya izin praktik. Menakutkan, tapi tidak bisa dipercaya,” tegasnya.
Bambang juga mempertanyakan metodologi survei yang dianggapnya nihil. Ia menekankan bahwa survei yang bertanggung jawab wajib menjelaskan proses sampling, teknik pengumpulan data, rentang waktu pelaksanaan, margin of error, dan tingkat kepercayaan. Dalam laporan rilpolitik.com, tidak satu pun unsur metodologis itu ditemukan.
“Kita hanya diminta percaya begitu saja bahwa ‘rakyat kecewa’, tanpa tahu siapa yang dimaksud rakyat itu, berapa jumlahnya, dan bagaimana datanya dikumpulkan. Ini seperti membaca hasil undian dari warung sebelah,” sindir Bambang.
Lebih lanjut, ia menilai angka 80,4 persen sebagai angka bombastis yang tidak proporsional, mengingat pemerintahan Fauzi-Imam baru berjalan tiga bulan. Ia menegaskan bahwa masa 100 hari pertama biasanya adalah fase transisi birokrasi dan adaptasi kebijakan.
“Di tahap awal, penilaian publik cenderung masih bercampur antara ekspektasi dan harapan. Apalagi di daerah kepulauan seperti Sumenep, distribusi kepuasan publik tak bisa digeneralisasi begitu saja,” katanya.
Jika benar angka ketidakpuasan mencapai 80 persen, Bambang pun balik bertanya: di mana suara itu tumpah? Apakah di daratan, kepulauan, atau hanya di kolom komentar media sosial?
Yang lebih mengganggu, kata dia, adalah kecenderungan media yang justru membingkai opini seolah-olah pemerintahan Fauzi-Imam telah gagal sejak awal.
Ia menilai pemberitaan itu tidak menyertakan suara warga, tidak mengulas indikator kinerja, dan hanya menjejalkan satu angka berulang-ulang layaknya mantra.
“Publik layak curiga, apakah ini benar-benar survei, atau topeng dari agenda politik yang lebih besar?” ujarnya.
Meski begitu, Bambang menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah adalah bagian dari demokrasi yang sehat, asalkan berdasarkan data sahih, argumen rasional, dan niat yang jernih.
“Kita justru melemahkan demokrasi bila membiarkan angka gelap dijadikan dasar mengadili kepemimpinan. Kalau ingin dihormati sebagai pembuat survei, bukalah datanya, jelaskan metodenya, dan tunjukkan siapa yang bertanggung jawab,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Bambang menegaskan bahwa opini publik bukan angka yang bisa dikarang di balik meja, melainkan denyut nadi masyarakat yang hanya bisa ditangkap melalui proses ilmiah, terbuka, dan bertanggung jawab.
“Jika survei itu tak mampu menjawab pertanyaan mendasar, maka tempatnya bukan di podium kebenaran tetapi di tong sampah opini,” pungkasnya. (REDJAVA****)
Penulis : Bambang Supratman SH Ketua IBM Foundation, Kamis (25/06/2025)
Editor : REDJAVA








