JAVANETWORK.CO.ID.OPINI – Dulu, saat saya masih duduk di bangku Madrasah, ada satu pelajaran yang cukup berkesan. Namanya Aqidah Akhlak, yang salah satu babnya mengupas tuntas tentang sifat tamak dan rakus. Dan, sejujurnya, sifat-sifat ini bisa dibilang adalah dua karakter yang sangat layak untuk diposisikan di urutan pertama dalam daftar akhlak tercela.
Lantas, apakah Sumenep kini sedang menangis karena dihadapkan dengan sifat-sifat ini? Mari kita simak dengan penuh rasa ingin tahu, walau penuh rasa sinis.
Penyebab tangisan Sumenep bukanlah karena cuaca yang buruk atau kesulitan ekonomi, tetapi lebih kepada kondisi politik dan sosial yang tak kunjung stabil, di mana segala hal berakhir dengan “keinginan lebih” yang tak terkontrol.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Misalnya, kasus BSPS (Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya) yang lebih sering dipahami sebagai jalan pintas untuk mengisi kantong pribadi, daripada untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Tentu saja, di tengah keruwetan tersebut, muncul pula wabah campak yang tanpa malu-malu menginfeksi, seolah-olah ingin ikut-ikutan menunjukkan betapa banyaknya masalah yang dapat ditemukan di daerah ini.
Tak cukup sampai di sana, berbagai event besar yang digelar, katanya sih untuk meningkatkan pariwisata, malah menjadi ajang pemborosan yang tak jelas output-nya
Acara yang digadang-gadang bisa membawa keuntungan ekonomi, malah hanya menjadi ladang bagi para penyelenggara untuk mengeruk keuntungan pribadi.
Bukankah ini sudah menjadi kebiasaan? Acara seremonial yang menggugurkan kewajiban administrasi, namun tak memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Dalam dunia yang penuh dengan kecanggihan ini, siapa yang peduli dengan masalah-masalah seperti itu?
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) pun sudah mengingatkan untuk tidak mengadakan acara seremonial yang hanya buang-buang anggaran. Namun, apakah siapa pun yang memiliki kekuasaan mendengarkan? Tampaknya Sumenep justru semakin tenggelam dalam lautan “ketamakannya”. Kita kembali pada konsep tamak itu sendiri: merasa kurang, terus-menerus merasa kurang, meskipun sudah memiliki segala sesuatu.
Siapa yang tamak di sini? Siapa yang merasa belum puas dengan semua yang ada? Tentu saja, bukan masyarakat Sumenep yang terbawa arus kemiskinan dan ketidakadilan.
Tapi mereka yang duduk di kursi empuk kekuasaan, yang tahu betul bahwa semakin banyak acara seremonial, semakin banyak pula anggaran yang bisa dikendalikan. Ah, Sumenep menangis, bukan karena tak ada yang peduli, tetapi karena terlalu banyak yang terbuai oleh nafsu tak berkesudahan. (REDJAVA****)
Penulis : Mahrus Ali Wartawan Olahraga, 18 September 2025
Editor : REDJAVA









