JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Sebuah babak baru sedang ditulis dari ujung timur Pulau Madura.
Pemerintah Kabupaten Sumenep menyalakan kembali obor kebangkitan pariwisata, bukan sekadar membenahi lokasi, tetapi membentuk manusia-manusia di baliknya agar menjadi ujung tombak perubahan.
Puluhan pengelola destinasi wisata dari penjaga keheningan pantai, penjaga jejak budaya, hingga pelestari alam dikumpulkan dalam satu forum eksklusif di Aula Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar).
Mereka tidak datang sekadar untuk mendengar, tapi untuk memetakan ulang masa depan industri wisata Sumenep.
Di hadapan para pengelola itu, Kepala Disbudporapar Mohammad Iksan menggelorakan semangat transformasi: bahwa pariwisata Sumenep tidak bisa berjalan dengan pola lama.
Harus ada revolusi mental. Harus ada loncatan kualitas SDM. Harus ada mimpi besar yang disematkan di setiap langkah kecil.
“Kami tidak sedang bicara tentang menambah jumlah kunjungan. Kami sedang bicara tentang membangun peradaban dari setiap destinasi. Wisata bukan sekadar jual pemandangan, tapi tentang menyuguhkan pengalaman berkelas dunia dengan ruh lokal,” kata Iksan
Dalam forum itu, materi disampaikan bukan hanya tentang pelayanan prima, tetapi juga manajemen destinasi, penguatan narasi digital, storytelling lokal, kebersihan, kenyamanan, hingga prinsip hospitality kelas dunia yang dikawinkan dengan kearifan Madura.
Paradigma lama digulingkan. Wisata tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, tetapi sebagai pilar ekonomi daerah, bahkan pilar martabat budaya.
Para pengelola diminta bukan hanya menjaga aset, tetapi merawat nilai, membangun atmosfer, dan menjadi pelaku ekonomi kreatif.
Langkah ini bukan tiba-tiba. Sumenep selama ini memang tengah menanjak dalam radar wisata nasional.
Namun, Pemkab Sumenep tampaknya tak ingin hanya jadi opsi akhir bagi pelancong.
Mereka ingin menjadikan Sumenep sebagai destinasi utama tempat orang ingin datang bukan karena murah, tapi karena penuh makna.
“Kita tidak ingin wisatawan datang hanya sekali lalu lupa. Kita ingin mereka pulang membawa cerita, lalu kembali membawa teman,” pungkas Iksan.
Langkah ini bukan akhir, tapi permulaan. Pemkab Sumenep siap menjadikan pariwisata bukan sekadar sektor, tetapi gerakan sosial.
Sebuah orkestra besar di mana setiap pelaku wisata menjadi musisi, dan Sumenep adalah panggung utamanya. (REDJAVA****)













