JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Suasana Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, terasa begitu hidup dan penuh kehangatan.
Di tengah gema takbir dan tradisi silaturahmi yang mengalir dari rumah ke rumah, satu kebiasaan lama tetap bertahan dan selalu dinanti: berbagi uang baru dalam tradisi “salam tempel”.
Aroma khas uang kertas yang masih baru seolah menjadi bagian dari atmosfer lebaran. Amplop-amplop kecil mulai berpindah tangan, menghadirkan senyum ceria, terutama di wajah anak-anak yang dengan antusias menanti momen tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tradisi ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bagian dari budaya yang mengakar kuat di tengah masyarakat Sumenep.
Yuli, salah satu warga Kecamatan Kota Sumenep, mengaku sudah menyiapkan uang baru jauh hari sebelum hari raya tiba. Baginya, momen berbagi kepada anak-anak menjadi bagian paling membahagiakan dalam perayaan Idul Fitri.
“Setiap tahun saya selalu menyiapkan uang baru untuk dibagikan. Rasanya ada kebahagiaan tersendiri saat melihat anak-anak tersenyum menerima amplop lebaran,” kata Yuli, Senin (23/3/2026).
Menurut Yuli, sensasi memberikan uang baru tidak bisa digantikan oleh cara lain, termasuk transfer digital yang kini semakin marak digunakan.
“Kalau uangnya masih baru dan rapi, anak-anak itu terlihat lebih senang. Ada kesan spesial yang tidak bisa didapat dari uang biasa atau kiriman lewat ponsel,” ujarnya.
Meski perkembangan teknologi terus mendorong masyarakat ke arah transaksi non-tunai, tradisi salam tempel di Sumenep tetap bertahan.
Nilai emosional yang melekat dalam proses memberi dan menerima uang secara langsung menjadi alasan utama tradisi ini sulit tergantikan.
Bagi warga, salam tempel bukan sekadar berbagi rezeki, tetapi juga bentuk syukur setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh. Tradisi ini sekaligus menjadi sarana mempererat hubungan keluarga dan tetangga.
“Ini bukan hanya soal uangnya, tapi bagaimana kita berbagi kebahagiaan. Tradisi ini sudah turun-temurun dan saya ingin tetap menjaganya,” pungkas Yuli.
Di tengah arus modernisasi, tradisi sederhana ini justru menjadi pengingat bahwa kehangatan lebaran tidak hanya hadir dari kemewahan, tetapi dari kebersamaan dan kepedulian yang tulus antar sesama. (REDJAVA****)








