JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di tengah ritme kerja yang tak kenal henti, para Aparatur Sipil Negara (ASN) di Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Sumenep menunjukkan bahwa kepedulian sosial tetap menjadi bagian penting dari pengabdian mereka.
Jumat pagi, 10 April 2025, suasana Kantor Bapenda berbeda dari hari-hari biasanya. Kehadiran unit donor darah dari Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Sumenep membawa nuansa kemanusiaan yang begitu terasa.
Tanpa seremoni, para ASN dengan sukarela mengantri untuk mendonorkan darah sebuah aksi sederhana namun sarat makna.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak ada paksaan. Tak ada sorotan berlebihan. Hanya ketulusan yang mengalir pelan-pelan, sebagaimana darah yang mereka sumbangkan.
Dari kegiatan tersebut, terkumpul sedikitnya 11 kantong darah. Jumlah ini bukan sekadar memenuhi target, tetapi juga mencerminkan semangat gotong royong dan solidaritas yang mengakar kuat.
Darah-darah ini kelak akan mengalir di tubuh mereka yang tengah berjuang di ambang hidup dan mati menjadi penyambung napas, pembawa harapan, dan pemantik cahaya di tengah kegelapan.

Koordinator kegiatan dari PMI Sumenep, Fadhilah Herawati, menyampaikan apresiasi atas antusiasme para ASN.
Menurutnya, donor darah bukan sekadar agenda sosial, melainkan bentuk konkret cinta kasih antarmanusia.
“Setetes darah mungkin hanya sebentar meninggalkan tubuh kita, tetapi bagi yang menerimanya, itu bisa menjadi napas terakhir yang diselamatkan. Sebuah alasan bagi keluarga untuk kembali tersenyum,” ujar Herawati di sela kegiatan.
Ia menambahkan bahwa PMI Sumenep akan terus memperluas jangkauan gerakan donor darah, menyasar instansi pemerintahan, sektor swasta, komunitas pendidikan, hingga pesantren.
“Kami ingin menjadikan donor darah sebagai budaya, sebagai bagian dari gaya hidup. Tidak menunggu darurat. Karena kemanusiaan tidak mengenal waktu,” tegasnya.
Salah satu ASN Bapenda, RB Moh. Hasan, SE, M.Si akrab disapa Gus Hasan menuturkan bahwa donor darah telah menjadi agenda pribadinya secara rutin.

“Ini bukan sekadar empati, tapi bentuk nyata tanggung jawab sosial kita sebagai manusia. Menolong tak harus selalu lewat materi darah pun bisa menjadi jalan kebaikan,” ungkapnya.
Sementara itu, Ririn, ASN yang baru pertama kali mendonorkan darah, mengaku sempat gugup. Namun rasa itu segera berubah menjadi kebanggaan setelah memahami makna di balik tindakan tersebut.
“Ternyata membantu orang lain bisa sesederhana ini. Rasanya luar biasa. Seperti menemukan sisi baru dari diri saya,” ujarnya.
Aksi sosial ini menjadi pengingat, bahwa tugas ASN tak sebatas laporan dan angka-angka. Di balik meja kerja dan setumpuk berkas, tersimpan ruang luas dalam hati mereka untuk peduli dan berbagi.
Melalui kegiatan ini, Bapenda Sumenep menorehkan catatan tak hanya administratif, tetapi juga spiritual. Sebuah jejak kemanusiaan yang tak selalu tercantum dalam laporan kinerja, namun hidup dalam ingatan mereka yang terbantu.
Karena pada akhirnya, kebaikan bukan soal besar kecilnya aksi, tapi tentang keikhlasan yang mengalir bersama setetes darah. (REDJAVA****)









