JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Sore perlahan turun di kawasan Pasar Jengara, Desa Paberasan, Kecamatan Kota Sumenep, Rabu 25 Pebruari 2026.
Di Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah, suasana menjelang berbuka puasa menghadirkan pemandangan yang khas: sederhana, namun sarat makna. Di sepanjang tepi jalan, para pedagang kaki lima menata aneka takjil dengan rapi.
Kolak, es buah, aneka gorengan, hingga jajanan tradisional tersusun di atas meja-meja kecil yang dinaungi payung warna-warni. Aroma manis dan gurih berpadu dengan semilir angin sore, mengundang warga untuk singgah.
Pembeli berdatangan silih berganti. Ibu rumah tangga, remaja, hingga anak-anak tampak mengantre dengan tertib. Sepeda motor terparkir di bahu jalan, sementara arus lalu lintas tetap berjalan lancar.
Hiruk-pikuk kecil itu justru menghadirkan kehangatan tersendiri cerminan kehidupan masyarakat yang terus bergerak.
Bagi warga Paberasan, momen berburu takjil di Pasar Jengara telah menjadi tradisi Ramadhan yang dirindukan setiap tahun.
“Kalau sudah sore di bulan puasa, suasananya memang terasa lebih hidup. Banyak pilihan takjil dan harganya masih terjangkau,” ujar Siti Aminah (43), warga setempat, saat ditemui di lokasi, Kamis (25/02/2026).
Menurutnya, selain memudahkan kebutuhan berbuka, keberadaan para pedagang juga membantu menggerakkan ekonomi warga sekitar.
Senada dengan itu, Ahmad Fauzi (38) menyebut Pasar Jengara bukan sekadar ruang transaksi. Lebih dari itu, ia menjadi ruang silaturahmi.
“Ramadhan membuat suasana di sini terasa lebih hangat. Kita bisa bertemu tetangga, saling menyapa sambil menunggu azan. Ada kebersamaan yang terasa,” kata dia menambahkan.
Di balik kesederhanaan lapak-lapak tersebut, tersimpan harapan para pedagang untuk meraih berkah Ramadhan.
Setiap transaksi bukan hanya soal jual beli, melainkan juga tentang keberlangsungan usaha kecil yang menjadi sandaran hidup banyak keluarga.
Senja di Pasar Jengara menghadirkan potret yang menenangkan: tentang kebersahajaan, tentang ekonomi kerakyatan, dan tentang tradisi yang terus hidup di tengah masyarakat.
Ketika azan magrib berkumandang, keramaian perlahan surut. Namun kehangatan yang tercipta di sore itu menjadi bagian dari cerita Ramadhan yang akan selalu dikenang warga Paberasan. (REDJAVA****)













