JAVANETWORK.CO.ID.PAMEKASAN – Dari sebuah pesantren di dataran tinggi Pamekasan, Madura, kabar membanggakan kembali mengalun. Ahmad Muzakki, santri Pondok Pesantren Puncak Darussalam, menorehkan prestasi luar biasa dengan meraih Juara 1 Lomba Khitobah dalam ajang Kalijaga Arabic Fest (KAF) 2025 se-ASEAN yang digelar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Kemenangan ini bukan hanya tentang podium juara, melainkan tentang semangat santri yang menembus batas bahasa dan budaya.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur atas prestasi yang diraih Ahmad Muzakki. Ini bukti bahwa kesungguhan dalam menuntut ilmu dan berjuang di bidang bahasa Arab tidak pernah sia-sia,” ujar Ust. Abd Wahid, Muassis Markaz al-Lughah al-‘Arabiyyah (MLA), unit khusus pengembangan bahasa Arab di Pondok Pesantren Puncak Darussalam, Sabtu (11/10/2025)
Menurutnya, capaian tersebut menjadi buah dari disiplin panjang dan tradisi intelektual yang hidup di pesantren. Para santri, katanya, tidak sekadar belajar bahasa Arab sebagai mata pelajaran, tetapi menghidupkannya dalam keseharian sebagai bahasa berpikir, berdiskusi, bahkan berdoa.
“Prestasi ini lahir dari kerja keras, latihan intensif, dan suasana pesantren yang selalu memuliakan ilmu. Bagi kami, bahasa Arab bukan sekadar alat komunikasi, tapi bagian dari ibadah dan peradaban,” tutur Wahid dengan nada penuh bangga.
Ia juga mengutip pesan mendalam dari Pengasuh Pondok Pesantren Puncak Darussalam, KH. Abdul Hannan Tibyan, yang menjadi ruh perjuangan para santri:
“Tidak ada perjuangan yang sia-sia, kecuali disia-siakan,” tegasnya menirukan dawuh sang kiai.
Ahmad Muzakki sendiri merupakan anggota aktif Markas Bahasa Arab (MLA) dan kini duduk di kelas XI. Di kalangan teman-temannya, Muzakki dikenal tekun, fasih, dan memiliki kemampuan retorika yang memukau. Dalam ajang KAF 2025, ia berhasil memukau dewan juri dengan orasi penuh makna yang mengangkat tema tentang keagungan bahasa Arab sebagai bahasa peradaban Islam.
“InsyaAllah, prestasi ini membawa keberkahan bagi pesantren. Kami berharap Ahmad Muzakki dan seluruh anggota MLA terus istiqamah, dan kelak menjadi generasi yang membawa ilmu dan manfaat bagi umat,” pungkas Ust. Abd Wahid.
Kemenangan Ahmad Muzakki menjadi penanda bahwa semangat berkompetisi di dunia pesantren kini tidak lagi terbatas pada ilmu agama semata, melainkan telah merambah ke panggung akademik regional. Dari Madura untuk ASEAN, dari pesantren untuk peradaban. (REDJAVA****)










