JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di balik tembok tinggi dan pintu besi yang tertutup rapat, gerak cepat dilakukan tanpa banyak sorotan. Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Sumenep menggelar operasi senyap: penggeledahan menyeluruh dan tes urine massal bagi pegawai serta warga binaan, Senin (6/4/2026).
Langkah ini bukan rutinitas biasa. Di momen peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan (HBP) ke-62, Rutan Sumenep justru memilih memperketat pengawasan mengirim pesan tegas bahwa perang terhadap narkotika dimulai dari dalam.
Operasi gabungan ini melibatkan Polres Sumenep dan BNNK Sumenep. Sinergi tersebut menjadi bagian dari strategi besar P4GN, sekaligus upaya deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan di dalam rutan.
Sebanyak 32 pegawai dan 167 warga binaan menjalani tes urine secara acak. Hasilnya mengejutkan sekaligus melegakan: seluruhnya dinyatakan negatif.

Kepala Rutan Kelas IIB Sumenep, Aditya Wahyu Rahmadani, menegaskan bahwa hasil ini bukan sekadar angka, melainkan cermin integritas lembaga.
“Kami ingin memastikan bahwa tidak ada ruang bagi penyalahgunaan narkoba, baik di kalangan pegawai maupun warga binaan. Hasil negatif ini adalah bukti bahwa pengawasan berjalan dan komitmen itu nyata,” kata Aditya disela-sela kegiatan.
Tak berhenti pada tes urine, petugas juga menyisir setiap sudut blok hunian. Dari balik sel, ditemukan berbagai barang terlarang mulai dari potongan besi, sendok logam, korek api, hingga pecahan kaca dan benda tajam lainnya.
Benda-benda tersebut, meski terlihat sederhana, dinilai berpotensi memicu gangguan keamanan. Seluruh temuan langsung diamankan dan didata untuk dimusnahkan.

Lebih lanjut Karutan Sumenep Aditya Wahyu Rahmadani menekankan, operasi seperti ini akan terus dilakukan secara berkala, bukan hanya saat momen tertentu.
“Ini bukan kegiatan seremonial. Ini adalah bagian dari sistem pengawasan berkelanjutan. Kami ingin memastikan Rutan Sumenep benar-benar bersih, aman, dan menjadi tempat pembinaan yang bermartabat,” ujarnya menambahkan.
Langkah tegas ini memperlihatkan wajah baru pemasyarakatan: bukan hanya tempat menjalani hukuman, tetapi ruang pembinaan yang steril dari narkotika dan ancaman keamanan.
Di tengah berbagai tantangan, Rutan Sumenep mencoba menjawab satu hal mendasar bahwa perubahan harus dimulai dari dalam, bahkan dari tempat yang paling tertutup sekalipun. (REDJAVA****)












