JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Mata mereka mungkin tak mampu menangkap cahaya, tetapi hati mereka bersinar terang dengan semangat berbagi.
Di bulan suci Ramadan, Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) Sumenep kembali menghadirkan Buka dan Sahur Bersama, sebuah perayaan kebersamaan yang menggugah nurani di Masjid Laju Sumenep, Kelurahan Kepanjin Kecamatan Kota Sumenep, Kamis (27/03/2025).
Tak hanya sekadar berbagi hidangan berbuka dan sahur, acara ini juga menjadi momen penyaluran zakat fitrah serta santunan bagi masyarakat yang membutuhkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dengan menggandeng Taruna Siaga Bencana (TAGANA) dan SIR Foundation, ITMI Sumenep memastikan bahwa Ramadan bukan hanya tentang keheningan doa, tetapi juga tentang menyentuh kehidupan orang lain dengan kebaikan.
Langit senja mulai meredup ketika acara dibuka dengan tilawah Al-Qur’an dan tahlil bersama. Suasana semakin syahdu saat lantunan hadrah shalawat menggema, menyelimuti hati yang hadir dengan ketenangan.
Ketua ITMI Sumenep, Nuria Siska, menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah wujud nyata kepedulian dan kebersamaan, di mana Ramadan menjadi momentum untuk berbagi dan menguatkan satu sama lain.

“Bagi kami, Ramadan bukan hanya bulan suci, tapi juga bulan di mana kami ingin berbagi, menguatkan satu sama lain. Kami ingin menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk menyalakan cahaya kebaikan,” tutur Nuria Siska.
Sejak berdiri pada 2018, ITMI Sumenep telah menjadi rumah bagi komunitas tunanetra yang ingin tetap aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan. Mereka tak hanya saling mendukung, tetapi juga berusaha menjadi bagian dari masyarakat yang lebih luas.
“Kami mungkin tak bisa melihat dunia seperti kalian, tetapi kami bisa merasakannya. Dan kami ingin dunia juga merasakan keberadaan kami, bahwa kami berbagi, kami peduli, dan kami ingin terus memberi manfaat bagi sesama,” ungkapnya.
Buka dan sahur bersama ini bukan hanya tentang hidangan yang tersaji di meja, tetapi tentang kehangatan yang terjalin di antara mereka.
Setiap suapan yang mereka nikmati adalah simbol dari kebersamaan, setiap genggaman tangan yang saling membantu adalah bentuk kasih sayang yang melampaui batas keterbatasan.
Menjelang akhir acara, suasana semakin khusyuk ketika seorang ustaz menyampaikan tausiyah Ramadan yang mengingatkan tentang pentingnya berbagi dan bersyukur.

Doa bersama pun dipanjatkan, berharap agar keberkahan senantiasa menyertai mereka yang telah berbagi, serta diberikan kekuatan untuk terus menebarkan kebaikan.
Acara pun ditutup dengan buka puasa bersama, di mana setiap orang duduk berdampingan, menikmati hidangan sederhana dengan penuh kebahagiaan.
“Apa yang dilakukan kami (ITMI Sumenep) bukan sekadar acara amal, tetapi sebuah pesan yang menggugah kesadaran. Bahwa di tengah keterbatasan, masih ada ruang untuk memberi. Bahwa dalam gelapnya dunia, selalu ada hati yang bersinar,” pungkasnya.
Di Ramadan yang penuh berkah ini, mereka yang tak bisa melihat justru mengajarkan kita untuk lebih melihat-melihat bahwa kebaikan selalu punya cara untuk menemukan jalannya sendiri. (REDJAVA****)









