JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Suasana haru masih menyelimuti warga Dusun Cekkor, Desa Gunung Kembar, Manding. Beberapa hari lalu, Musola Al-Ikhlas tempat warga menambatkan doa, menenangkan hati, dan merawat kebersamaan ambruk seketika. Reruntuhan bangunan itu seolah menyisakan ruang kosong di tengah kehidupan spiritual masyarakat.
Tidak ingin warga berjalan sendirian dalam musibah ini, Detikzone, bersama Aktivis Pemuda Reformasi Sumenep dan Jurnalis Sumenep Independen (JSI), turun tangan menggalang dana untuk membangun ulang musola yang selama bertahun-tahun menjadi pusat kegiatan keagamaan warga.
Dari rasa duka itu, gerakan membantu pun lahir. Dan seperti biasa, ketika gotong royong dipanggil, respons masyarakat mengalir deras. Pembangunan darurat kini sudah berjalan dan mencapai sekitar 20 persen. Kerangka musola yang mulai berdiri tampak seperti harapan baru yang tumbuh kembali di tengah puing-puing.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pimpinan Redaksi Detikzone.id, Igusty Madani, tidak menutupi rasa harunya melihat antusiasme warga. “Musola bukan hanya bangunan. Di sana ada doa, ada air mata, ada harapan warga yang setiap hari menitipkan hidupnya pada Allah. Karena itu, membantu membangunnya bukan sekadar kerja sosial ini kerja hati,” ungkapnya dengan suara pelan.
Igusty berharap semakin banyak pihak yang tidak hanya melihat musibah ini sebagai kerusakan fisik, tetapi juga kehilangan ruang spiritual masyarakat. “Kami ingin lebih banyak orang ikut terlibat. Setiap bantuan itu bukan angka, tapi energi kebaikan yang menghidupkan kembali ruh tempat ibadah ini,” ujarnya menambahkan.
Ia juga menyampaikan terima kasih mendalam kepada para donatur dan relawan yang sudah bergerak tanpa diminta. “Terima kasih kepada semua dermawan. Semoga setiap rupiah, setiap tenaga, setiap doa yang diberikan menjadi cahaya yang menerangi hidup para warga. Semoga Allah membalas dengan keberkahan yang luas,” tandasnya.
Sementara itu, aktivis Pemuda Reformasi Sumenep, Imbuh Hajar, menyebut musola ini bukan sekadar tempat salat. “Musola ini rumah kebersamaan kami. Ketika ia roboh, rasa kebersamaan itu ikut terguncang. Karena itu kami mengajak siapa pun yang mampu, dari masyarakat hingga pemerintah, ikut menyatukan tenaga agar musola ini kembali berdiri,” tuturnya.
Gerakan pemulihan Musola Al-Ikhlas bukan sekadar pembangunan ulang. Ia menjadi ruang bagi masyarakat untuk kembali merajut nilai sosial: bahwa kepedulian tidak mengenal jarak, dan gotong royong selalu menjadi kekuatan paling tulus di tengah musibah.
Di bawah sinar matahari sore, kerangka musola yang mulai berdiri itu tampak seperti janji bahwa rumah ibadah ini akan kembali hidup, kembali memanggil doa, dan kembali menjadi tempat warga menemukan ketenangan yang selama ini hilang sejenak. (REDJAVA****)









