JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Menjelang peringatan Hari Santri Nasional 2025, kabar menggembirakan datang dari Guluk-Guluk, Sumenep. Kampus berbasis pesantren yang dikenal sederhana namun berprestasi tinggi, Universitas Annuqayah (UA), kembali mengukir sejarah.
Tim Jurusan Teknik Sipil Universitas Annuqayah berhasil mempertahankan gelar Juara 1 Nasional dalam ajang bergengsi PESC Rancang Bangun Atap Nasional 2025 yang digelar di Politeknik Negeri Bali, Selasa (21/10/2025).
Kompetisi tingkat nasional ini mempertemukan kampus-kampus teknik terbaik se-Indonesia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari puluhan peserta, mulai dari universitas negeri ternama hingga politeknik unggulan, Universitas Annuqayah tampil mengejutkan bukan hanya menang, tapi juga menjadi satu-satunya kampus pesantren yang mampu menjuarai dua tahun berturut-turut.
Hasil akhir menetapkan:
1. Juara 1: Universitas Annuqayah
2. Juara 2: Politeknik Negeri Pontianak
3. Juara 3: Universitas Sebelas Maret
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Annuqayah, Achmad Khatib, tak bisa menyembunyikan rasa harunya. Ia menyebut kemenangan ini bukan sekadar pengulangan, tapi bukti konsistensi intelektual dan spiritual para santri dalam dunia teknik modern.
“Ini bukan sekadar pengulangan, tapi kelanjutan dari komitmen kami untuk membuktikan bahwa santri juga mampu menembus batas teknologi dan inovasi,” tutur Achmad Khatib kepada media ini, Selasa (21/10/2025) malam
Menurutnya, kemenangan dua tahun berturut-turut ini adalah buah dari sistem pembinaan yang memadukan kedalaman spiritual pesantren dengan disiplin akademik universitas modern.
“Kami tidak ingin prestasi ini dianggap kebetulan. Tahun 2024 kami juara, dan tahun 2025 kami buktikan bahwa kemenangan adalah hasil dari tradisi akademik dan spiritual yang berjalan beriringan,” ujarnya menegaskan.
Dalam ajang yang menuntut kecepatan, presisi, dan kreativitas tinggi itu, tim Teknik Sipil Universitas Annuqayah tampil memukau.
Mereka menyelesaikan rancangan struktur atap lebih cepat dari peserta lain bahkan ketika waktu lomba masih tersisa 5 hingga 7 menit, karya tim UA sudah rampung sempurna dan siap dinilai.
“Anak-anak kami bekerja bukan hanya dengan kepala, tapi juga dengan hati. Mereka membawa etos santri dalam setiap goresan rancangan,” katanya.
Ia menyebut, setiap anggota tim tidak hanya berkompetisi untuk menang, tetapi juga berjuang untuk menunjukkan identitas baru santri: cinta ilmu, cinta karya, dan cinta tanah air.
“Kami ingin menunjukkan bahwa santri tidak hanya mengaji, tapi juga mampu menciptakan inovasi teknologi yang bermanfaat untuk masyarakat,” tambahnya.
Keberhasilan Universitas Annuqayah kian istimewa karena datang dari kampus yang tidak memiliki latar belakang teknopolis seperti universitas besar di kota-kota. Namun justru dari lingkungan pesantren, semangat inovasi itu lahir.
“Kami bukan politeknik, kami pesantren. Tapi kami ingin membuktikan bahwa pesantren juga bisa menjadi pusat inovasi teknik yang berdaya saing nasional,” tegasnya.
Baginya, kemenangan ini bukan hanya milik kampus, melainkan juga kemenangan moral seluruh santri di Indonesia. Beriringan dengan Hari Santri Nasional, capaian ini menjadi simbol bahwa pendidikan pesantren kini memasuki babak baru babak kemajuan dan inovasi.
“Prestasi ini kami persembahkan untuk seluruh santri di tanah air. Bahwa menjadi santri bukan berarti tertinggal justru menjadi kekuatan moral dan intelektual bangsa,” jelasnya.
Khatib menilai, kesuksesan ini menegaskan posisi Universitas Annuqayah di peta pendidikan nasional. Kampus yang berlokasi di pedalaman Madura ini kini menjadi contoh konkret bagaimana integrasi antara ilmu, iman, dan teknologi mampu menciptakan prestasi bertaraf nasional.
“Kami ingin membangun peradaban dari pesantren dengan ilmu, iman, dan karya nyata. Inilah wajah baru santri Indonesia,” terangnya.
Lebih jauh ia berharap, capaian ini menjadi inspirasi bagi seluruh generasi muda Indonesia khususnya para santri agar terus melangkah maju dalam bidang-bidang strategis seperti teknik, sains, dan teknologi.
“Santri hari ini bukan hanya penerus dakwah, tapi juga arsitek masa depan bangsa. Mereka harus percaya diri bahwa pesantren adalah sumber kecerdasan spiritual dan inovasi sosial,” pungkasnya. (REDJAVA****)








