JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di tengah gempuran ekonomi global dan tantangan ketimpangan sosial, sebuah harapan baru tumbuh di Desa Talaga, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep.
Lewat tangan-tangan warga dan pengelolaan yang partisipatif, Pemerintah Desa Talaga resmi melahirkan Koperasi Merah Putih simbol gotong royong dan semangat kemandirian ekonomi yang menyatu dalam denyut kehidupan masyarakat desa.
Kelahiran koperasi ini bukan sekadar rutinitas kelembagaan, melainkan manifestasi dari cita-cita kolektif untuk membangun ekonomi dari bawah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam Musyawarah Desa Khusus (Musdessus) yang digelar Rabu (7/5) di pendopo balai desa, hadir para pemangku kepentingan: Camat Ganding Abdul Khalid, jajaran DPMD Sumenep, Kepala Desa Talaga Abd Hadi beserta perangkat, unsur BPD, dan tentunya, calon anggota koperasi.
Pengawas Koperasi Ahli Muda Dinas Koperasi UKM Perindag Kabupaten Sumenep, Moh Bahar, tampil sebagai penutur utama dalam forum tersebut.

Dalam paparannya yang lugas namun membumi, Bahar menekankan bahwa koperasi sejatinya adalah roh dari ekonomi kerakyatan, ia hidup dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
“Koperasi bukan sekadar badan usaha. Ia adalah kumpulan orang-orang yang bersatu dalam visi dan semangat kekeluargaan. Di situlah letak kekuatannya,” ujar Bahar.
Menurutnya, keberadaan Koperasi Merah Putih di Desa Talaga bukan hanya soal membentuk organisasi, melainkan membangun peradaban ekonomi baru yang berakar dari nilai-nilai lokal: inklusivitas, partisipasi, dan tanggung jawab sosial.
Koperasi Merah Putih, kata Bahar, mengedepankan model kepemimpinan yang terbuka dan egaliter. Salah satu yang menjadi sorotan adalah keterlibatan perempuan dalam struktur organisasi. Hal ini menjadi simbol bahwa koperasi ini milik semua, bukan hanya segelintir.
“Strukturnya terdiri dari ketua, dua wakil ketua masing-masing bidang usaha dan keanggotaan serta sekretaris dan bendahara. Semua dipilih berdasarkan komitmen dan kesediaan bekerja bersama, bukan karena kedekatan pribadi,” tegasnya.
Menariknya, Kepala Desa setempat turut dipercaya sebagai koordinator pengawas, yang menunjukkan sinergi kuat antara kelembagaan desa dan institusi ekonomi rakyat.

Bahar juga memaparkan bahwa kekuatan koperasi akan ditopang dari simpanan pokok dan simpanan wajib anggota. Inilah modal sosial sekaligus finansial pertama yang harus dijaga dengan kedisiplinan dan kejujuran tinggi.
Tak hanya berhenti di sana, Koperasi Merah Putih juga berpeluang besar mendapat dukungan dari pemerintah. Bahar memastikan, jika dikelola dengan baik dan transparan, koperasi ini bisa menjadi mitra strategis dalam program pemberdayaan ekonomi skala desa maupun kabupaten.
“Insyaallah, ke depan Koperasi Merah Putih akan mendapat bantuan dari pemerintah. Tapi tentu saja, itu harus dibarengi dengan komitmen pengelolaan yang profesional dan akuntabel,” ungkapnya.
Di penghujung arahannya, Bahar menutup dengan harapan besar. Bahwa Talaga, desa kecil di lereng Sumenep, bisa menjadi pelopor model koperasi yang mandiri, tangguh, dan berdampak luas.
“Koperasi bukan hanya soal dagang dan simpan-pinjam. Ia adalah jalan panjang menuju keadilan ekonomi. Dan Talaga telah memulainya,” pungkasnya. (REDJAVA****)









