Pak Bupati dan Guru Ngaji

- Redaksi

Selasa, 21 Maret 2023 - 09:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bupati Sumenep Ra Achmad Fauzi, S.H.,M.H

Bupati Sumenep Ra Achmad Fauzi, S.H.,M.H

JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Dalam kultur kehidupan aristokrat Madura, para kiai sejak zaman kesultanan diletakkan dalam struktur sosial yang setara dengan kelas bangsawan. Sebab, mereka dipandang linuwih. Mereka mengajari putra-putri sultan membaca Al-Quran dan pendidikan keagamaan secara mendalam. Mereka juga terbiasa dimintai nasihat untuk memecahkan persoalan pemerintahan dan kemasyarakatan.

Oleh karena itu, para Indonesianis seperti Clifford Geertz memasukkan para kiai sebagai patron orang-orang keraton. Mereka umumnya menikmati privilege dan hidup berkecukupan.

Ketika terjadi perubahan bentuk pemerintahan pasca kemerdekaan, dari monarki ke demokrasi, posisi para kiai ini mulai bergeser.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jika dulu para kiai menjadi patron utama dalam pusat lingkaran kekuasaan keraton, kini secara perlahan mulai terpinggirkan.

Baca Juga :  Pengukuhan AJS, Achmad Fauzi Wongsojudo di Anugerahi Tokoh Kebebasan Pers

Para kiai dalam konteks saat ini adalah mereka yang mendirikan pondok pesantren secara mandiri dan mengajarkan ilmu-ilmu agama dalam lingkungan tersendiri dan umumnya jauh dari pusat-pusat keramaian.

Dalam sistem pendidikan agama yang terus terpolarisasi, dewasa ini dikenal pula profesi guru ngaji yang berbeda dengan para kiai.

Guru ngaji ini umumnya mendirikan surau. Tempat bagi anak-anak belajar membaca Al-Quran untuk pertama kali sebelum melanjutkan ke pesantren atau pendidikan formal lainnya.

Bagi generasi yang lahir pada era 70-an, saat lampu teplok menjadi penerangan rumah warga di pelosok-pelosok, pastilah akrab dengan suasana surau dan guru ngaji yang kadang sangat galak.

Mereka tekun mengajari anak-anak kecil di kampung-kampung selepas azan magrib berkumandang dengan sarana seadanya.

Baca Juga :  Surat Terbuka Ketum Fast Respon Nusantara : Permohonan Penarikan Anggota Polri Di PT Mamuang Sulbar - Sulteng

Hanya saja guru ngaji itu, saat ini berada dalam struktur sosial yang berbeda dengan pegawai negeri, karyawan atau buruh pabrik.

Mereka tak punya penghasilan tetap dan menggantungkan hidupnya pada hasil pertanian atau perikanan. Walaupun disaat yang sama mereka menanggung beban yang tak bisa dipandang remeh.

Merekalah, para guru ngaji yang menjadi gantungan harapan orang tua yang menginginkan anak-anaknya fasih membaca Al-Quran. Mereka juga yang dibebani tanggungjawab untuk menjadikan anak-anak milenial mengenal pendidikan dasar keagamaan.

Kita tahu, anak-anak milenial saat ini terjebak dalam era toksik akibat candu media sosial seperti tiktok dan youtube. Sulit sekali menjauhkan mereka dari gawai dan menyuruh mereka ke surau secara teratur untuk belajar mengaji kitab suci.

Baca Juga :  Polsek Kalianget Bekuk Pencuri Tabung Gas Elpiji, Kapolres Sumenep: Respons Cepat Warga Kunci Keberhasilan

Dulu, ketika Bung Karno berpesan bangsa yang besar adalah bangsa yang (tahu cara) menghargai jasa pahlawan, maka kini Bupati Sumenep Achmad Fauzi mampu mengkontekstualkan (baca: membumikan) pesan bersejarah itu. Bahwa pahlawan bukan hanya mereka yang gugur dalam kecamuk perang kemerdekaan yang berlangsung berjilid-jilid selama ratusan tahun. Tetapi juga untuk para guru ngaji yang mengabdikan hidupnya mengajarkan anak-anak dengan pendidikan Al-Quran.

Bagi saya tak ada mantan guru. Apalagi guru ngaji. Mereka, orang-orang yang rela bekerja dalam sunyi. Sampai mereka pun kadang tak mendengar jika santrinya kini telah menjadi Bupati yang peduli (memberi bantuan) pada guru ngaji.

Oleh : Ahzam Habas
Penulis saat ini bermukim di Yogyakarta

Follow WhatsApp Channel javanetwork.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

BERITA TERKAIT

Bersama Kita Bisa Tasyakuran HUT RI ke-81, Pesan Kuat Bapenda Sumenep di Tengah Perjuangan Kejar Target PAD
PK PMII STAIM Bagikan Merah Putih, Kobarkan Nasionalisme: Kemerdekaan Tak Boleh Berhenti di Seremoni
Personel Yonif TP 931/KJ Hadirkan Semangat Kemerdekaan di MI Miftahun Najah Sumenep
154 Warga Binaan Rutan Sumenep Terima Remisi HUT ke-81 RI, 2 Langsung Bebas
75 Paskibraka Sumenep Sukses Kawal HUT ke-81 RI, Honor Cair dan Evaluasi Besar Disiapkan
Camat Pragaan Pimpin Upacara HUT ke-81 RI, Kobarkan Nasionalisme dan Perkuat Kebersamaan Warga
HUT ke-81 RI, PDI Perjuangan Sumenep Tekankan Semangat Gotong Royong dan Kerja Nyata
HUT ke-81 RI di Sumenep, Bupati Fauzi Bicara Kemerdekaan yang Harus Terasa

BERITA TERKAIT

Senin, 17 Agustus 2026 - 23:59 WIB

Bersama Kita Bisa Tasyakuran HUT RI ke-81, Pesan Kuat Bapenda Sumenep di Tengah Perjuangan Kejar Target PAD

Senin, 17 Agustus 2026 - 23:59 WIB

PK PMII STAIM Bagikan Merah Putih, Kobarkan Nasionalisme: Kemerdekaan Tak Boleh Berhenti di Seremoni

Senin, 17 Agustus 2026 - 22:32 WIB

Personel Yonif TP 931/KJ Hadirkan Semangat Kemerdekaan di MI Miftahun Najah Sumenep

Senin, 17 Agustus 2026 - 22:21 WIB

154 Warga Binaan Rutan Sumenep Terima Remisi HUT ke-81 RI, 2 Langsung Bebas

Senin, 17 Agustus 2026 - 17:54 WIB

75 Paskibraka Sumenep Sukses Kawal HUT ke-81 RI, Honor Cair dan Evaluasi Besar Disiapkan

BERITA TERBARU