JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP — Jumat pagi di Jalan Urip Sumoharjo biasanya hanya diisi deru kendaraan dan roda becak yang berputar tanpa henti. Namun, pada 14 November 2025, suasana itu berubah pelan.
Di tepi jalan yang dinaungi deretan pohon besar, para relawan KBS Sumenep berdiri menyapa satu per satu abang becak dan pengendara motor yang melintas, menyerahkan nasi bungturat 120 bungkus yang mereka siapkan sejak subuh.
Tak ada panggung. Tak ada pengeras suara. Hanya tangan-tangan yang menyodorkan makanan dan senyum yang menjembatani percakapan singkat.
Sebagian abang becak menerima paket itu dengan mata berkaca-kaca, seolah menemukan jeda yang sejak lama tak mereka miliki di tengah rutinitas mencari nafkah.
Ketua KBS Sumenep, Akhmad Sadruddin SH, menyebut kegiatan ini sebagai ruang kecil di mana solidaritas kembali dicicipi oleh masyarakat. “Kami tahu banyak dari mereka yang bekerja tanpa hari libur, tanpa kepastian pendapatan. Karena itu, kami ingin hadir di sela-sela perjalanan mereka,” ucapnya kepada media ini di sela kegiatan.
Tak hanya soal makanan, aksi ini menjadi pengingat bahwa secercah perhatian masih bisa menghangatkan kota kecil seperti Sumenep. “Kami berharap hal sederhana ini bisa menghidupkan kembali rasa saling menjaga di antara warga,” harap Sadruddin.
Dalam perjalanan pagi itu, nasi bungturat mungkin hanya seporsi makanan. Namun bagi sebagian penerimanya, ia hadir sebagai tanda bahwa mereka tidak berjalan sendirian. (REDJAVA****)










