JAVANETWORK.CO.ID.BANGKALAN – Momentum yudisium di Fakultas Teknik Universitas Trunojoyo Madura (UTM) bukan sekadar seremoni akademik.
Di balik itu, terselip pesan kuat tentang realitas dunia kerja yang kian dinamis dan menuntut kesiapan lebih dari sekadar nilai di atas kertas.
Pesan tersebut disampaikan Komisaris sekaligus Pelaksana Tugas Direktur Utama PT Sumekar (Perseroda), Muhammad Romli, yang hadir sebagai pemateri pembekalan bagi para calon wisudawan, Jumat (3/4/2026).
Di hadapan ratusan mahasiswa, Romli membongkar paradigma lama yang masih melekat di kalangan lulusan perguruan tinggi: bahwa Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) adalah tiket utama menuju kesuksesan karier.
“IPK tinggi itu penting, tapi bukan jaminan siap menghadapi dunia kerja. Perusahaan hari ini mencari orang yang bisa menyelesaikan masalah, bukan sekadar menghafal teori,” tegasnya.
Menurutnya, lanskap industri saat ini bergerak cepat dan menuntut sumber daya manusia yang adaptif. Kemampuan belajar hal baru, berpikir kritis, dan berkolaborasi menjadi kunci yang tak bisa ditawar.
“Dunia kerja berubah sangat cepat. Mereka yang tidak mampu beradaptasi akan tertinggal, meskipun punya nilai akademik yang tinggi,” ujarnya.
Muhammad Romli juga menyoroti peluang besar di sektor ekonomi kreatif yang terus berkembang seiring akselerasi digitalisasi.
Ia melihat generasi muda memiliki keunggulan dalam memanfaatkan teknologi untuk menciptakan inovasi baru.
“Digitalisasi membuka peluang tanpa batas. Anak muda hari ini punya akses untuk menciptakan sesuatu yang bernilai ekonomi dari ide-ide kreatif mereka,” katanya.
Lebih jauh, ia mendorong perubahan pola pikir mahasiswa agar tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja, tetapi mulai berani menjadi pencipta lapangan kerja.
Menurutnya, kewirausahaan menjadi salah satu jawaban atas tingginya persaingan di pasar tenaga kerja.
“Jangan hanya berpikir bagaimana diterima kerja. Mulailah berpikir bagaimana menciptakan pekerjaan, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain,” ungkapnya.
Pihaknya menegaskan, keberanian untuk memulai menjadi faktor pembeda di tengah kompetisi global yang semakin ketat.
“Kesuksesan itu milik mereka yang berani mencoba, gagal, lalu bangkit lagi. Dunia kerja menghargai proses, bukan hanya hasil akhir,” pungkas Romli.
Melalui pembekalan ini, para lulusan diharapkan tidak hanya membawa ijazah sebagai simbol kelulusan, tetapi juga kesiapan mental, keterampilan nyata, dan visi yang jelas dalam menatap masa depan.
Di tengah ketidakpastian global, mereka dituntut hadir sebagai solusi bukan sekadar bagian dari persaingan. (REDJAVA****)












