JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan serius soal potensi gempa kuat dan tsunami di wilayah Pulau Madura.
Berdasarkan hasil pemodelan terbaru, Madura berada tepat di atas jalur sesar aktif RMKS (Rembang–Madura–Kangayan–Sakala) yang bisa memicu gempa hingga magnitudo 7,8.
Kepala Stasiun Meteorologi Trunojoyo BMKG Sumenep, H. Ari Widjajanto, S.P., M.T., mengatakan aktivitas tektonik di sekitar Madura masih sangat tinggi dan perlu diwaspadai.
“Pulau Madura termasuk kawasan seismik aktif dengan potensi gempa besar. Aktivitas sesar RMKS dan Sesar Bawean masih terus bergerak,” kata Ari kepada media ini, Senin (03/11/2025).
Menurut BMKG, pergerakan dua sesar besar RMKS dan Bawean menjadikan wilayah Madura sebagai zona rawan gempa. Berdasarkan peta seismisitas periode 1914–2022, tercatat ratusan titik aktivitas gempa di sekitar Madura, baik di darat maupun di laut.
Beberapa gempa yang terekam dalam beberapa tahun terakhir di antaranya:
– 3 Juni 2018 – Magnitudo 4,8
– 15 Januari 2022 – Magnitudo 4,1
– 12 Mei 2022 – Magnitudo 3,9
“Sumber gempa di Madura masih aktif. Pola ini menunjukkan energi tektonik belum dilepaskan sepenuhnya,” ujarnya.
Salah satu peristiwa gempa kuat di Madura terjadi 11 Oktober 2018 di Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep. Gempa bermagnitudo 6,4 itu menewaskan 3 orang, melukai 34 orang, dan merusak lebih dari 200 rumah.
“Gempa Sapudi adalah bukti nyata bahwa ancaman gempa di Madura bukan teori. Wilayah ini memang aktif secara seismik,” tegasnya.
BMKG juga telah melakukan pemodelan tsunami jika terjadi gempa besar di zona sesar tenggara Madura. Hasilnya, gelombang tsunami berpotensi menjangkau pesisir selatan dan timur Kabupaten Sumenep.
“Dalam simulasi gempa M7,8, gelombang tsunami bisa tiba dalam waktu cepat. Ini skenario ilmiah agar masyarakat paham risikonya dan siap menghadapi keadaan darurat,” jelas Ari.
BMKG menegaskan bahwa hasil simulasi ini bukan prediksi waktu kejadian, melainkan bagian dari upaya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana.
Data sejarah menunjukkan bahwa Madura bukan wilayah baru bagi bencana tsunami. Catatan ilmiah dan arsip kolonial Belanda merekam tiga peristiwa tsunami besar yang pernah melanda kawasan ini:
1. Tsunami Pulau Genteng (7 Februari 1843) Gelombang laut besar muncul di selatan Pulau Genteng. Catatan Wichmann (1918) menyebutkan munculnya batu karang baru setinggi 0,3 meter di atas permukaan laut.
2. Tsunami Sumenep (23 November 1889) Gempa kuat di pesisir Gersikputih membuat air laut naik dan menghancurkan tambak. Air baru surut ke kondisi normal keesokan harinya.
3. Tsunami Madura (29 Desember 1820) Gempa M7,5 di Laut Flores memicu tsunami yang melanda Sumenep, Bali utara, NTB, NTT, hingga Sulawesi selatan.
Selain tsunami, sejarah juga mencatat sejumlah gempa besar di Madura, seperti tahun 1863, 1881, 1883, 1891, 1904, 1935, 1936, 2018, dan 2019.
BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat pesisir Madura, terutama di Kabupaten Sumenep dan Pamekasan. Masyarakat diminta untuk memahami tanda-tanda alam sebelum tsunami, seperti air laut yang tiba-tiba surut, serta mengenali jalur evakuasi terdekat.
“Dengan pemahaman dan latihan yang baik, risiko korban jiwa bisa ditekan. Mitigasi bukan pilihan, tapi keharusan,” tutup Ari.
Ia menambahkan, pemerintah daerah perlu memperkuat sistem peringatan dini, membangun infrastruktur tahan gempa, dan melakukan edukasi kebencanaan secara rutin. (REDJAVA****)










