JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Lonjakan kasus campak yang ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, menjadi perhatian serius berbagai pihak. Belasan nyawa telah melayang akibat wabah ini. Menyikapi situasi genting tersebut, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) langsung turun tangan mendampingi pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) campak pada 25 Agustus–6 September 2025.
Pendampingan ini dilakukan bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep. Kehadiran akademisi medis dari Surabaya ini menjadi bukti bahwa dunia pendidikan tinggi tak hanya berfokus pada ruang kuliah, tetapi juga hadir nyata dalam penanganan krisis kesehatan masyarakat.
“Tim vaksinator di lapangan memang sudah lengkap, namun tetap dibutuhkan dukungan dokter, terutama untuk advokasi, edukasi, serta pendampingan langsung. Karena itu, FK Unair menerjunkan tim khusus dari Departemen Pediatri,” kata Wakil Dekan III FK Unair, Dr. Sulistiawati, dr., M.Kes, Jum’at (29/08/2025)
Tim FK Unair diberangkatkan dalam tiga gelombang. Gelombang pertama dipimpin oleh dr. Dwi Yanti Puspitasari, DTMH, MCTM, SpA(K) bersama dr. Alpha Fardah Athiyyah, SpA(K) dan sejumlah dokter PPDS. Mereka langsung berkoordinasi dengan Kemenkes serta Dinkes setempat untuk memetakan wilayah prioritas.
“Fokus pendampingan diarahkan ke daerah yang cakupan imunisasinya masih sangat rendah, bahkan di bawah 10 persen. Salah satunya adalah TK Qurrota Ayun, yang memiliki 200 anak sebagai sasaran imunisasi,” jelasnya.
Selain mengawal proses vaksinasi, tim FK Unair juga memberikan edukasi kepada orang tua, guru, dan tenaga kesehatan. Edukasi mencakup pentingnya imunisasi, cara deteksi dini gejala, hingga kesiapan menghadapi kemungkinan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).
Upaya vaksinasi masif ini mulai menunjukkan hasil. Data RSUD Sumenep mencatat, jumlah pasien campak menurun dari 22 menjadi 6 orang. Meski begitu, angka kematian masih cukup tinggi karena sebagian besar pasien datang dalam kondisi berat akibat komplikasi pneumonia.
“Rata-rata pasien datang sudah terlambat, dalam kondisi sangat kritis, sehingga penanganannya menjadi jauh lebih sulit,” ujarnya.
FK Unair menegaskan bahwa ORI campak diberikan kepada seluruh anak sesuai rentang usia, tanpa melihat status imunisasi sebelumnya. Jika anak sedang sakit atau demam, vaksinasi ditunda sementara, namun jika sehat maka vaksin tetap diberikan.
Dr. Sulistiawati mengingatkan bahwa campak adalah penyakit yang sangat menular dan berpotensi mematikan. Pencegahan melalui imunisasi menjadi langkah paling efektif untuk melindungi anak-anak, sekaligus menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity) di tengah masyarakat.
“Campak bukan penyakit sepele. Tanpa imunisasi, ancamannya bisa merenggut nyawa. Karena itu, vaksin bukan hanya melindungi anak sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitarnya,” pungkasnya.
Dengan kolaborasi lintas lembaga ini, diharapkan cakupan ORI di Sumenep meningkat pesat sehingga penyebaran campak dapat ditekan. FK Unair memastikan akan terus hadir mendampingi masyarakat, demi menyelamatkan generasi bangsa dari ancaman yang seharusnya bisa dicegah. (REDJAVA****)










