JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP — Sebuah panggung budaya yang penuh aura magis siap mengguncang nusantara. Brawijaya Tosan Aji Fest 2025 bukan sekadar pameran benda pusaka, melainkan ajang sakral yang menyatukan roh leluhur, nilai tradisi, dan semangat pelestarian warisan budaya Indonesia.
Bertempat di Gedung Samantha Krida, Universitas Brawijaya Malang, festival ini akan berlangsung pada 18 hingga 20 April 2025 dan digadang menjadi episentrum kebangkitan peradaban keris di tanah air.
Yang menarik perhatian adalah keikutsertaan Kabupaten Sumenep, daerah yang telah lama dijuluki sebagai “Kota Keris”, karena kontribusinya yang luar biasa dalam jagat perkerisan Nusantara.
Untuk pertama kalinya, dua keris legendaris milik pribadi Bupati Sumenep akan diperlihatkan kepada publik: Keris lurus pamor Junjung Drajat Ngulit Semongko dan Keris lurus pamor Sersan, dua pusaka yang tak hanya bernilai artistik tinggi, tetapi juga sarat makna filosofis dan spiritual.
Kehadiran Sumenep ini diundang secara resmi oleh panitia melalui surat bernomor 06.050/SPm/SS/BM/IV/2025. Meski tanpa dukungan

logistik maupun akomodasi, komitmen untuk ambil bagian dalam panggung nasional ini tetap dipegang teguh.
Di balik layar, sosok Edi Purwanto bertindak sebagai penanggung jawab acara, bersama Rizal Nur Alfian selaku Ketua Pelaksana, yang mengorkestrasi event ini dengan visi besar: menjadikan keris sebagai simbol kebangkitan jati diri bangsa.
Tak ketinggalan, Helmy, pemilik Helmy Art Museum Sumenep museum yang dikenal dengan koleksi kerisnya yang langka dan orisinal menyatakan dukungan penuh terhadap acara ini.
“Inilah momentum emas untuk mempertegas eksistensi keris sebagai artefak budaya adiluhung. Kita tidak hanya berbicara tentang benda, tetapi tentang sejarah, filosofi, dan ruh peradaban yang hidup di dalamnya,” ungkap Helmy kepada media ini, Selasa (15/4).
Helmy melanjutkan, bahwa keris bukan sekadar senjata pusaka, melainkan manifestasi dari kecerdasan spiritual, kekayaan simbolik, dan kebesaran nilai-nilai kearifan lokal.
“Keris adalah kitab bisu yang menyimpan jejak peradaban. Dalam setiap lekuknya, dalam setiap pamornya, ada pesan moral, nilai kepemimpinan, bahkan doa-doa leluhur yang membimbing arah bangsa ini. Sayang sekali jika generasi muda tidak lagi mengenalnya,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa keberadaan keris perlu diangkat tidak hanya sebagai benda museum, tetapi sebagai identitas budaya yang hidup dan dinamis.
“Melalui festival ini, kami berharap anak-anak muda bisa melihat keris bukan hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai inspirasi masa depan. Keris itu estetik, filosofis, dan punya nilai kebangsaan yang kuat. Jangan sampai warisan ini hanya tinggal dalam katalog koleksi,” pungkasnya.
Dalam festival nanti, koleksi keris yang akan ditampilkan berasal dari berbagai kalangan: dari museum, empu, hingga kolektor nasional.
Puncaknya, acara ini juga akan menjadi saksi pencanangan Hari Keris Nasional dan prosesi penyerahan Keris Pusaka Kanjeng Kiai Garuda Nuswantara, simbol pemersatu budaya Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
Lebih dari sekadar ajang budaya, Brawijaya Tosan Aji Fest 2025 adalah panggilan nurani bagi bangsa ini: untuk kembali menengok akar, menimba hikmah dari leluhur, dan meneguhkan keris sebagai warisan yang tidak hanya dipamerkan, tapi diwariskan.(REDJAVA****)













