JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Tepuk tangan bergemuruh mengisi aula utama Universitas Sunan Giri (UNSURI) Surabaya. Di antara deretan toga hitam dan senyum haru para wisudawan, nama Ainor Rasid disebut lantang dari podium. Detik itu juga, air mata bangga pun menetes sebuah perjalanan panjang akhirnya tiba di puncaknya.
Sosok asal Kabupaten Sumenep, Madura, yang dikenal rendah hati dan teguh memperjuangkan nilai-nilai keadilan, kini resmi menyandang gelar Magister Hukum (M.H.). Gelar itu bukan hanya simbol akademik, melainkan hasil dari perjalanan penuh dedikasi, kesabaran, dan pengorbanan panjang.
“Alhamdulillah, perjuangan ini bukan hanya tentang meraih gelar. Ini tentang tanggung jawab moral bagaimana ilmu hukum bisa menjadi alat menegakkan keadilan yang bermanfaat bagi manusia,” ujar Ainor dengan mata berbinar usai prosesi wisuda, Sabtu (08/11/2025)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selama menempuh studi pascasarjana di UNSURI, Ainor dikenal bukan sekadar mahasiswa yang tekun di ruang kelas. Ia aktif berdiskusi, meneliti, dan menggali isu-isu hukum yang menyentuh akar persoalan sosial: ketimpangan, akses keadilan, dan perlindungan bagi masyarakat kecil.
“Ainor adalah mahasiswa yang memiliki kepekaan sosial tinggi. Ia tidak hanya memahami hukum sebagai teks, tetapi sebagai sarana untuk memperjuangkan kemanusiaan,” ungkap salah satu dosen pembimbingnya dengan nada bangga.

Suasana wisuda berlangsung khidmat dan penuh emosi. Saat nama Ainor Rasid dipanggil, tepuk tangan panjang menggema. Keluarganya yang datang jauh-jauh dari Sumenep tampak menahan haru. Beberapa rekan seangkatannya bahkan berdiri memberi penghormatan simbol penghargaan bagi sosok yang tak pernah berhenti berjuang.
Bagi Ainor, gelar Magister Hukum bukanlah garis akhir, tetapi titik mula perjalanan baru. Ia ingin mengembalikan ilmu yang diperolehnya untuk memperkuat kesadaran hukum dan membangun keadilan sosial di tanah kelahirannya.
“Ilmu hukum itu bukan sekadar pasal dan aturan. Ia adalah cermin nurani untuk berpihak pada keadilan dan kemanusiaan,” tegasnya menutup perbincangan.
Kini, di balik senyum tenang seorang magister muda, tersimpan keyakinan besar: bahwa ilmu tidak boleh berhenti di ruang kuliah. Ainor Rasid adalah bukti bahwa impian, kerja keras, dan niat tulus untuk berbuat bagi sesama masih menjadi jalan terbaik menuju kemuliaan.
Dengan pencapaian ini, Ainor berharap generasi muda Sumenep berani bermimpi tinggi dan berani berjuang, karena pendidikan adalah jalan panjang menuju perubahan nyata. (REDJAVA****)









