JAVANETWORK.CO.ID.OPINI — Di Madura, kemiskinan bukan sekadar angka dalam laporan resmi pemerintah. Ia punya wajah, punya nama, dan sering kali juga punya utang di warung sebelah. Ia tinggal di rumah berdinding anyaman bambu yang hampir menyerah pada angin laut, tapi entah bagaimana selalu bertahan—mungkin karena hanya itu satu-satunya rumah yang bisa disebut “tempat tinggal”.
Namun di ruang-ruang rapat pejabat, kemiskinan kehilangan wajahnya. Ia berubah menjadi grafik warna-warni dan tabel statistik yang bisa disesuaikan menurut suasana hati. Kadang naik sedikit untuk menunjukkan “tantangan”, kadang turun tajam menjelang Pilkada untuk menunjukkan “keberhasilan”.
Begitulah, kemiskinan di Madura hidup di dua dunia: dunia nyata yang keras, dan dunia data yang lentur.
Pejabat sering dengan bangga menyebut, “Angka kemiskinan turun!” seolah itu hasil kebijakan yang hebat. Padahal yang turun mungkin hanya baris Excel, bukan beban hidup masyarakat. Di pelosok Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan, banyak dapur yang tetap dingin, piring yang tetap kosong, dan anak-anak yang masih harus memilih antara makan atau sekolah.
Kemiskinan di Madura itu unik. Ia punya daya tahan tinggi terhadap segala jenis bantuan BLT, PKH, BPNT, hingga bantuan yang namanya bahkan tak sempat dihafal. Semua datang dan pergi seperti tamu Lebaran: ramai di awal, tapi cepat lupa setelah sesi foto dokumentasi.
Yang paling lucu, kemiskinan kerap dijadikan “bahan politik musiman.” Saat kampanye, ia jadi magnet empati; setelah pemilu, ia jadi bahan evaluasi. Lalu muncul berbagai tim—monitoring, survei, validasi, dan verifikasi—yang jumlahnya kadang lebih banyak daripada warga miskin itu sendiri. Ironisnya, yang miskin tetap itu-itu juga, hanya datanya yang berubah.
Di beberapa desa di Sampang, ada warga bingung: “Kok di data saya sudah tidak miskin, padahal makan saja masih pakai garam dan air?” Rupanya, di atas kertas mereka sudah “sejahtera”—mungkin karena punya motor bekas atau rumah bata setengah jadi.
Standar kemiskinan kadang terasa seperti candaan. Selama masih punya atap walau bocor dianggap mampu. Selama masih hidup, dianggap cukup.
Bahkan beredar candaan getir di masyarakat: “Kalau mau dapat bantuan, jangan terlalu jujur.” Sebab, kejujuran justru bisa membuat nama dicoret dari daftar penerima. Ironis, di tanah dengan nilai keislaman yang tinggi, kejujuran malah bisa menghalangi rezeki dari negara.
Sementara itu, pejabat daerah dengan semangat tinggi menggelar konferensi pers. “Kami berhasil menurunkan angka kemiskinan hingga sekian persen,” ujarnya bangga. Tak jauh dari kantornya, ada ibu-ibu yang menanak nasi dengan kayu bakar basah karena tak mampu beli gas. Tapi tenang saja—angka statistik tetap indah.
Itulah keajaiban data: ia bisa membuat perut kosong tampak kenyang, penderitaan terlihat sebagai “kemajuan”, dan kemiskinan jadi bahan evaluasi, bukan alasan untuk bertindak nyata.
Padahal, kalau mau jujur, kemiskinan di Madura bukan sekadar soal uang. Ia soal akses pendidikan yang mahal, layanan kesehatan yang sulit, dan lapangan kerja yang sempit. Banyak pemuda Madura merantau bukan karena ingin, tapi karena terpaksa. Di desanya, pekerjaan sering datang lewat koneksi, bukan kompetensi.
Lebih ironis lagi, kemiskinan sering dijaga agar tetap “produktif”. Produktif untuk proposal, untuk proyek sosial, bahkan untuk laporan keberhasilan. Banyak pihak yang diam-diam butuh kemiskinan tetap ada, sebab tanpa kemiskinan, mereka kehilangan ladang program. Maka, kemiskinan bukan lagi musuh tapi aset.
Setiap kali data kemiskinan dibahas, muncul kalimat ajaib: “Kita akan lakukan pendataan ulang.” Sebuah mantra sakti seolah bisa menyembuhkan segalanya. Padahal yang diperbaiki bukan kehidupan, tapi spreadsheet.
Di tengah semua itu, rakyat Madura tetap bertahan dengan caranya sendiri. Mereka tak menunggu keajaiban data. Mereka bekerja keras di laut, di ladang, atau di perantauan. Mereka tahu negara sibuk menghitung, sementara mereka sibuk bertahan hidup.
Dan mungkin itulah perbedaan paling nyata antara statistik dan kenyataan: statistik bisa diubah, tapi kenyataan tak bisa disunting.
Kemiskinan di Madura bukan rahasia. Ia berjalan di jalan rusak, menyeberang jembatan rapuh, dan tidur di rumah yang tak layak. Tapi selama data masih bisa diperdebatkan, kemiskinan akan selalu tampak seperti isu bukan tragedi.
Maka, ketika pejabat kembali berbicara tentang “penurunan angka kemiskinan”, rakyat Madura mungkin hanya tersenyum kecil dan berkata:
“Baguslah kalau datanya sudah turun. Sekarang tinggal tunggu, kapan nasib kami ikut turun dari penderitaan.” (REDJAVA****)
Penulis : Moch Thoriqil Akmal B, S.H Sabtu 8 November 2025
Editor : REDJAVA











