JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP — Di balik desir angin pesisir dan debur ombak yang bersahutan, Pantai Slopeng, Kabupaten Sumenep, menjelma menjadi panggung peradaban yang hidup. Senin pagi (07/04/2024), 1.500 jiwa berkumpul, bukan sekadar untuk berpesta, tetapi untuk merayakan satu nilai luhur: kebersamaan dalam bingkai budaya Madura.
Festival Ketupat 2025 atau Tellasan Topak, lebih dari sekadar agenda wisata tahunan, telah menjelma menjadi ruang spiritual, tempat di mana janur, beras, dan doa berpadu menjadi simbol identitas yang tak lapuk dimakan waktu.
Tepat pukul 08.30 WIB, Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, hadir bersama unsur Forkopimda. Mereka disambut irama sronen yang mendayu dan tarian pesisir yang menggugah, bukan sebagai pejabat, tetapi sebagai putra daerah yang kembali menziarahi akar budayanya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dan ketika Bupati naik ke panggung utama, hadirin terdiam. Yang mereka dengar bukan pidato seremonial biasa, melainkan semacam sabda budaya yang merasuk sampai ke lapisan terdalam masyarakat.
“Tellasan Topak bukan sekadar makan ketupat. Bukan pula hanya tradisi turun-temurun. Ia adalah bahasa kasih, warisan nilai-nilai luhur: tentang berbagi, kesetaraan, dan saling memahami. Di dalamnya, leluhur kita menitipkan ajaran hidup,” kata Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo.
Sosok orang nomer satu di kabupaten ujung timur Pulau Madura itu kemudian menyentuh soal zaman yang bergerak cepat, kadang meninggalkan manusia di dalam kekosongan makna.

“Ketupat mengajarkan kita tentang proses, kesabaran, dan pentingnya keterhubungan sosial. Saat seluruh keluarga, tetangga, hingga masyarakat berkumpul, duduk bersila, dan saling berbagi di situlah peradaban tumbuh. Bukan di gedung tinggi, tapi di hati yang saling terhubung,” jelasnya.
Usai pidato, arak-arakan Topak Lober digelar dengan penuh khidmat. Gunungan ketupat dan tumpeng diarak seperti pusaka, diiringi sronen, doa, dan getar haru yang nyaris tak terbendung.
Ketika janur kuning ditarik oleh Bupati dan Ibu Nia Kurnia Fauzi, masyarakat pun berebut ketupat bukan demi kenyang, tapi demi menjadi bagian dari sejarah kecil yang menyatukan.

Sebagai penutup, dilepaskanlah burung merpati putih atau dara oddag ke langit Slopeng, lambang pengharapan dan perdamaian.
Burung-burung itu terbang membawa pesan sunyi namun kuat: bahwa budaya bukan untuk dikenang saja, tetapi untuk diteruskan, dirawat, dan ditanamkan kepada generasi masa depan.
“Sumenep tidak akan pernah berhenti menanam dan merawat budaya. Ini bukan sekadar festival. Ini adalah komitmen, napas kolektif yang tak boleh terputus. Mari wariskan ini, agar anak-cucu kita tahu dari mana mereka berasal,” tutup Ketua DPC PDI-P Sumenep itu. (REDJAVA****)









