JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di balik hiruk-pikuk aktivitas pagi warga di Pasar Bangkal, Kecamatan Kota Sumenep, sebuah kisah tak biasa tersimpan.
Bukan tentang kebakaran besar, bukan pula penyelamatan manusia dari reruntuhan melainkan tentang seekor tikus yang terjebak di dalam sumur.
Hari itu, Selasa, 22 April 2025, pukul 07.38 WIB, Call Center 112 menerima laporan dari seorang warga bernama Bapak Fajar.
Lokasi kejadian berada di area padat perdagangan: sekitar 100 meter ke utara dari Toko Kacamata Bank UMKM, tak jauh dari lampu merah Suramadu.
Laporan itu terdengar sederhana bahkan remeh bagi sebagian orang: “tikus masuk sumur”.
Tapi tidak bagi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Sumenep. Bagi mereka, setiap makhluk yang membutuhkan pertolongan, adalah panggilan kemanusiaan.
Tak butuh waktu lama, satu regu personel Damkar meluncur ke lokasi. Dengan perlengkapan evakuasi ringan dan pengamanan area sekitar, mereka turun ke sumur yang cukup dalam dan lembap.
Proses evakuasi berlangsung dengan hati-hati, mempertimbangkan potensi bahaya bagi petugas maupun kondisi lingkungan sekitar.
“Kami tidak menilai dari besar kecilnya makhluk yang dilaporkan. Prinsip kami sederhana: selama ada yang butuh pertolongan, kami akan datang,” tegas Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Sumenep, Sugiyanto, kepada awak media.
Sugiyanto menambahkan, kejadian seperti ini menunjukkan pentingnya kepekaan warga terhadap lingkungan sekitar.
“Meskipun ini ‘hanya’ seekor tikus, tapi keberadaannya di dalam sumur dapat mencemari air dan membahayakan kesehatan masyarakat. Respons cepat itu penting,” jelasnya.
Evakuasi selesai dalam waktu kurang dari 30 menit. Tikus berhasil diangkat dari dalam sumur dengan selamat.
Para pedagang dan warga sekitar pun menyaksikan proses tersebut dengan campuran rasa heran, simpati, dan kagum.
Bukan soal tikusnya melainkan tentang nilai kemanusiaan dan kepedulian, yang ditunjukkan oleh para petugas Damkar Sumenep.
Di era ketika banyak yang abai pada hal-hal kecil, petugas Damkar Sumenep justru hadir dan memberikan pelajaran besar: bahwa kemanusiaan tak mengenal ukuran, tak memilah spesies, dan selalu berangkat dari kepedulian yang tulus.
“Kami bukan sekadar pemadam kebakaran. Kami adalah penjaga kehidupan sekecil apa pun itu,” pungkas Sugiyanto. (REDJAVA****)











