JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Sumenep Jawa Timur menunjukkan wajah berbeda dalam momentum Hari Bakti Pemasyarakatan (HBP) ke-62.
Melalui gelaran Kontes Bonsai “Karutan Cup 2026”, institusi ini berhasil menarik ratusan pecinta bonsai dari berbagai wilayah di Madura, sekaligus menghidupkan ruang publik berbasis kreativitas dan komunitas.
Digelar di halaman Rutan Sumenep, Minggu (15/03/2026), kegiatan tersebut tak hanya menjadi ajang lomba, tetapi juga menggerakkan ekosistem hobi yang memiliki nilai ekonomi dan budaya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Deretan bonsai dengan karakter unik dan nilai seni tinggi dipamerkan, menciptakan atmosfer yang tidak biasa bagi sebuah lingkungan pemasyarakatan.
Langkah ini dinilai sebagai strategi soft approach dalam membangun citra baru lembaga pemasyarakatan yang lebih terbuka, inklusif, dan produktif.

Kepala Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Sumenep, Aditya Wahyu Rahmadani, menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari transformasi pemasyarakatan agar lebih dekat dengan masyarakat.
“Kami ingin momentum Hari Bakti Pemasyarakatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menghadirkan dampak nyata. Kontes bonsai ini menjadi ruang interaksi positif antara Rutan dan masyarakat,” kata Karutan Aditya Wahyu Rahmadani dalam keterangan tertulis, Selasa (17/03/2026).
Lebih lanjut, Aditya menilai bahwa kegiatan berbasis komunitas seperti ini memiliki potensi besar dalam membangun hubungan sosial sekaligus menghapus stigma negatif terhadap lembaga pemasyarakatan.
Menurutnya, keterlibatan publik dalam kegiatan di dalam lingkungan Rutan merupakan bentuk keterbukaan institusi yang selama ini identik dengan kesan tertutup.

“Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin menunjukkan bahwa Rutan Sumenep bisa menjadi bagian dari ruang sosial masyarakat, bukan hanya tempat pembinaan, tetapi juga wadah kegiatan kreatif dan inspiratif,” tambahnya.
Tak hanya sebagai ajang silaturahmi, kontes ini juga membawa nilai edukasi bagi pengunjung.
Masyarakat dapat mengenal lebih dalam tentang teknik perawatan, pembentukan, hingga filosofi seni bonsai langsung dari para peserta yang berpengalaman.
Antusiasme tinggi yang terlihat sepanjang kegiatan menjadi sinyal kuat bahwa pendekatan kolaboratif antara institusi negara dan komunitas dapat menciptakan dampak sosial yang luas.
Karutan Cup 2026 pun menjadi bukti bahwa transformasi pemasyarakatan tidak hanya berbicara soal sistem pembinaan, tetapi juga bagaimana menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat melalui kegiatan yang relevan, produktif, dan berkelanjutan. (REDJAVA****)









