JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia di Kecamatan Masalembu berlangsung meriah. Ribuan warga tumpah ruah di jalanan menyaksikan karnaval budaya dan kreativitas masyarakat.
Namun, di tengah kemeriahan itu, sebuah penampilan unik justru mencuri perhatian dan memantik diskusi publik.
Komunitas SDHOYO menghadirkan tema satir bertajuk “Koruptor”.
Mereka menampilkan patung raksasa berbadan manusia dengan kepala tikus, berpakaian jas rapi, sepatu mengkilap, sambil menenteng koper penuh uang dengan tulisan “Uang Rakyat”.
Pesan yang ingin disampaikan jelas: kritik terhadap maraknya praktik korupsi di negeri ini.
“Koruptor itu seperti tikus licik, rakus, dan pandai mencari celah. Dari tingkat desa hingga pusat, rakyat sering hanya jadi penonton dari permainan kotor segelintir elit,” ujar salah seorang anggota komunitas kepada media ini, Jum’at (29/08/2025)
Selain simbol tikus, rombongan SDHOYO juga membawa poster-poster bertuliskan sindiran keras: “Kemana Dana Desa?”, “Bansos untuk Kerabat?”, “Jalan Hancur”, hingga “Dana Pokir Raib”.

Semua itu menggambarkan keresahan nyata masyarakat Masalembu yang merasa tertinggal dalam pembangunan.
Warga menilai para koruptor semakin nyaman hidup dalam sistem yang penuh kebobrokan.
“Urat malu mereka sudah hilang. Justru merasa bangga saat berhasil mengambil hak rakyat. Itu yang membuat masyarakat tidak boleh tinggal diam,” imbuhnya.
Melalui seni jalanan ini, SDHOYO mengajak publik untuk lebih kritis, tidak mudah terbuai janji politik, serta terus mengawasi jalannya pemerintahan dan aparat penegak hukum.
“Jangan biarkan negeri ini dikendalikan oleh tikus-tikus perusak yang pandai menyamarkan kebenaran,” tegasnya.
Harapan besar pun disampaikan, agar kritik masyarakat Masalembu tidak sekadar jadi tontonan, melainkan benar-benar didengar pemerintah.
Mulai dari perbaikan jalan rusak parah, penyediaan listrik yang masih belum menyentuh seluruh wilayah, peningkatan fasilitas kesehatan, hingga pemenuhan kebutuhan dasar untuk menunjang kehidupan yang layak.
“Lewat kritik ini, kami hanya ingin pemerintah membuka mata. Masyarakat Masalembu ingin maju, ingin hidup layak, dan ingin merasakan keadilan yang selama ini hanya jadi janji,” tutupnya. (REDJAVA****)










