JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Laut Dungkek tenang pagi itu, Senin 28 Juli 2025. Di antara rombongan perahu kayu yang bersiap menyeberang ke Pulau Giliyang, sosok berseragam cokelat tampak membaur akrab. Duduk bersila di dek, sesekali bercanda dengan warga, dia bukan orang biasa. Ia adalah Kapolsek Dungkek, IPTU Harri Putra Makmur, S.Tr.K., MH.
Bukan kali pertama ia menyambangi Giliyang pulau yang terkenal dengan kadar oksigen tertinggi kedua di dunia setelah Laut Mati, Jordania. Namun kali ini, kunjungannya terasa lebih dari sekadar patroli: ini adalah safari kamtibmas yang menyentuh langsung hati warga.
“Kami ingin memastikan kehadiran Polri bukan hanya dirasakan di daratan, tetapi juga sampai ke pulau-pulau kecil,” ujarnya, ramah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Begitu menjejak dermaga Giliyang, IPTU Harri tak langsung menuju titik acara. Ia berhenti di pinggir jalan mata tertarik pada sekumpulan siswa berseragam biru-putih yang tengah menikmati jajanan saat jam istirahat. Tanpa jarak, ia menyapa dan menggoda dengan kuis berhadiah.
“Siapa presiden pertama Indonesia?”
“Soekarno!” teriak siswa.
“Presiden sekarang?”
“Prabowo, Pak!”
Seketika tawa merekah. Hadiah kecil pun berpindah tangan, menandai pertemuan hangat antara penegak hukum dan generasi penerus bangsa.
Empat siswa beruntung dari MI dan MTs Al-Hidayah Desa Bancamara Ferdiawan, Achmad Faqih, Munzil Fawana, dan Tahzinul Aga Al-Afkar menerima hadiah, bukan karena materi, melainkan cara pendekatan yang begitu humanis.
“Anak-anak adalah perwujudan Kamtibmas masa depan. Mereka harus disentuh lewat edukasi, bukan hanya penegakan hukum,” tutur Harri.
Dari sekolah ke “titik oksigen”area alami yang diyakini menyimpan kadar O₂ tertinggi di Asia Kapolsek muda ini memimpin penanaman pohon alpukat. Menurutnya, menjaga lingkungan adalah bagian integral dari stabilitas sosial.
“Kalau oksigen tetap lestari, hidup akan lebih sehat. Dan masyarakat sehat adalah dasar dari kamtibmas yang kuat,” katanya.
Aparat desa, warga, dan anggota Polsek pun turut serta dalam aksi hijau itu. Usai kegiatan, Harri juga menyambangi wisata Batu Canggah lokasi eksotis yang belum banyak tersentuh promosi. Diskusi ringan dan silaturahmi dengan warga dua desa Bancamara dan Banra’as menjadi penutup yang hangat.
IPTU Harri bukan polisi biasa. Lulusan Akpol 2019 dengan predikat cumlaude dan masuk 10 besar nasional, ia juga langganan juara umum sejak SD hingga SMA. Di tempat tugas sebelumnya di Bondowoso, ia menggagas TPQ Presisi, menggabungkan nilai-nilai Qur’ani dengan kedisiplinan polisi.
Ia juga merancang sistem pemantauan cuaca digital untuk mencegah longsor. Kini, semangat dan inovasi itu ia bawa ke Dungkek wilayah pesisir yang menuntut pendekatan hati dan langkah nyata.
Ketika perahu kembali ke daratan siang itu, tawa warga dan aroma pohon muda yang baru ditanam mengisi udara. Harapan tentang wajah Polri yang lebih humanis turut dibawa ombak.
Kunjungan ini tak hanya menyapa, tapi juga menanam. Bukan sekadar pohon, melainkan kepercayaan dan rasa aman. Karena bagi Harri, menjadi polisi bukan soal kewenangan, tapi tentang kehadiran hingga ke pulau-pulau yang jauh dari hiruk-pikuk kota. (REDJAVA****)










