JAVANETWORK.CO.ID.PROBOLINGGO – Di tengah berbagai tantangan yang melingkupi institusi Polri, sosok IPTU Miftahol Rahman, S.H., M.H., muncul sebagai wajah segar yang memberi harapan. Perwira muda asal Desa Kalianget, Kabupaten Sumenep, Madura, ini dikenal luas berkat pendekatan humanis yang ia bangun, khususnya dalam merangkul kalangan pesantren dan tokoh agama.
Salah satu potret kedekatannya yang mencuri perhatian publik adalah hubungannya dengan Gus Eeng, cicit pendiri Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong sekaligus adik Bupati Probolinggo, Gus Haris. Hubungan erat ini menjadi simbol kuat harmonisasi antara institusi kepolisian dengan ulama.
“Beliau bukan hanya polisi, tapi juga sahabat para ulama. Kehadirannya di tengah masyarakat pesantren membawa kesejukan,” tutur salah satu warga Genggong.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di mata masyarakat, IPTU Iip sapaan akrabnya tak hanya dikenal karena ketegasannya, tetapi juga karena sikapnya yang rendah hati dan penuh empati. Ia mampu menjembatani komunikasi antara kepolisian dan masyarakat akar rumput, terutama komunitas pesantren yang selama ini menjadi pilar sosial dan keagamaan di wilayah Probolinggo.

Sementara itu, saat dihubungi melalui sambungan telepon, IPTU Miftahol Rahman yang saat ini menjabat Kasubag Bin Ops Polres Probolinggo menegaskan bahwa tugas kepolisian harus dilandasi dengan nilai-nilai kemanusiaan.
“Menjadi polisi itu tidak cukup hanya tegas dan profesional. Kita juga harus ramah, santun, dan hadir sebagai sahabat masyarakat,” kata Iip sapaannya akrabnya kepada media ini, Minggu (13/04/2025) malam.
Menurutnya, keberhasilan dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat sangat bergantung pada kemampuan polisi dalam membangun hubungan yang sehat dengan seluruh lapisan masyarakat, termasuk para tokoh agama, pemuda, dan komunitas sosial lainnya.
“Ketika kita bisa hadir dan menyatu dalam kehidupan masyarakat, mendengarkan mereka, bermain dan bekerja bersama mereka, itulah momen di mana kepercayaan tumbuh. Dan kepercayaan adalah modal utama kami dalam bertugas,” tegasnya.
Lebih jauh, IPTU Iip menambahkan bahwa setiap tempat tugas harus dijadikan ladang pengabdian yang maksimal.
“Di mana pun kita berdinas, prinsip saya sederhana: selalu berikan yang terbaik. Karena bagi saya, tugas adalah amanah, dan amanah itu harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya.
Sikap dan pemikiran IPTU Iip inilah yang membuatnya diganjar apresiasi dari berbagai kalangan. Di tengah sorotan terhadap dinamika internal Polri, kehadirannya menjadi oase yang mengingatkan bahwa polisi bisa dan seharusnya menjadi sahabat rakyat.
Dengan pendekatan merakyat, santun, dan komunikatif, IPTU Miftahol Rahman memberi teladan bahwa membangun sinergi antara Polri dan masyarakat bukan sekadar wacana, melainkan keniscayaan yang dapat diwujudkan. (REDJAVA****)











