JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di tengah padatnya tanggung jawab sebagai aparat penegak hukum, sosok Nur Fajriyah, S.H., justru tampil berbeda. Ia bukan hanya dikenal tegas di ruang kerja, tetapi juga hangat dan membumi di tengah masyarakat.
Kiprah itu tampak nyata dalam kesehariannya sebagai jaksa di Kejaksaan Negeri Sumenep. Ia aktif terlibat langsung dalam berbagai kegiatan sosial mulai dari kerja bakti, penyuluhan hukum, hingga menyapa warga di lingkungan sekitar.
Tak sekadar menjalankan tugas formal, Nur Fajriyah memilih hadir lebih dekat. Ia percaya, penegakan hukum tidak bisa berdiri sendiri tanpa sentuhan kemanusiaan.
“Kami ingin masyarakat merasa bahwa jaksa bukan sosok yang jauh. Justru kami hadir untuk melayani dan menjadi bagian dari mereka,” kata Nur Fajriyah, Selasa (24/03/2026).
Keterlibatannya dalam kegiatan sosial bukan sekadar simbolik. Ia kerap turun langsung, menyapu jalan, berdialog dengan warga, hingga memberikan edukasi hukum secara sederhana agar mudah dipahami masyarakat.
Menurutnya, pendekatan humanis menjadi kunci membangun kepercayaan publik terhadap institusi hukum.
“Kalau ingin hukum dipahami, maka kita harus turun langsung. Tidak cukup hanya di kantor,” tegasnya.
Namun di balik dedikasi itu, Nur Fajriyah tetap menghadapi realitas sebagai seorang ibu dan istri. Ia mengakui, membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga bukan hal mudah.

Meski demikian, ia berusaha menjaga keseimbangan. Baginya, keluarga adalah sumber energi utama untuk tetap kuat menjalankan tugas negara.
“Keluarga adalah alasan saya untuk tetap bertahan dan memberikan yang terbaik, baik di pekerjaan maupun di rumah,” ungkapnya.
Kisah Nur Fajriyah menjadi refleksi bahwa perempuan mampu memainkan banyak peran sekaligus sebagai penegak hukum, penggerak sosial, dan pilar keluarga.
Di tengah tuntutan profesi yang tinggi, ia membuktikan bahwa dedikasi tidak harus mengorbankan sisi kemanusiaan. Justru dari kedekatan dengan masyarakat, lahir kepercayaan dan dari keluarga, tumbuh kekuatan. (REDJAVA****)











