JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Ribuan warga memadati Masjid Pondok Pesantren Al-Karawi, Desa Ketawang Karay, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep, untuk melaksanakan Salat Idul Fitri lebih awal pada Kamis (19/3/2026).
Sejak selepas Subuh, arus jamaah terus berdatangan. Halaman hingga area sekitar masjid dipenuhi warga dari berbagai desa, termasuk dari Kecamatan Lenteng dan wilayah lainnya di Madura.
Salat Id sendiri dimulai sekitar pukul 06.00 WIB dalam suasana khidmat.
Tradisi merayakan Idul Fitri lebih awal di pesantren tersebut bukan hal baru.
Setiap tahun, sebagian masyarakat mengikuti penetapan 1 Syawal berdasarkan metode hisab yang merujuk pada kitab-kitab falak klasik.
Obaid (23), warga Lenteng, mengaku sudah datang sejak pagi buta demi mendapatkan tempat di dalam masjid.
“Sejak habis subuh kami sudah di sini. Soalnya setiap tahun pasti ramai, jadi kalau datang terlambat biasanya tidak kebagian tempat di dalam,” ujarnya.
Ia menambahkan, tradisi ini telah berlangsung lama dan menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat serta alumni pondok pesantren.
“Dari dulu memang seperti itu, menggunakan hisab kitab kuning falak. Alhamdulillah semuanya menyambut baik,” katanya.
Meski berbeda dengan penetapan pemerintah, masyarakat setempat tetap memandang perbedaan tersebut sebagai hal yang wajar.
Ahmad (22), warga setempat, menegaskan bahwa toleransi menjadi kunci utama dalam menyikapi perbedaan tersebut.
“Yang penting kita tetap saling menghormati, ini soal keyakinan metode masing-masing, dan di sini sudah biasa,” ujarnya.
Salat Id dipimpin oleh salah satu pengasuh pondok, Kiai Musfik, yang juga bertindak sebagai khatib. Dalam khutbahnya, ia mengajak jamaah menjadikan Idul Fitri sebagai momentum memperkuat silaturahmi dan mempererat persaudaraan.
Usai salat, suasana hangat langsung terasa. Jamaah saling bersalaman, bermaaf-maafan, dan bercengkerama di sekitar masjid. Perbedaan waktu perayaan tak mengurangi kekhidmatan maupun kebersamaan warga.
Di tengah dinamika penetapan hari besar keagamaan, tradisi di Ponpes Al-Karawi ini menjadi potret bagaimana masyarakat tetap menjaga harmoni, merawat warisan keilmuan, sekaligus menjunjung tinggi sikap saling menghormati. (REDJAVA****)










