JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menggelar peringatan Haul Presiden ke-4 RI KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dirangkai dengan Pendidikan Kader Pertama (PKP) Loyalis, Kamis (25/12/202), di Aula Gus Dur. Acara ini menjadi momentum strategis konsolidasi ideologis PKB yang dihadiri kader dari 27 kecamatan se-Kabupaten Sumenep.
Haul Gus Dur berlangsung khidmat dan sarat pesan kebangsaan. Sejumlah ulama kharismatik NU tampak hadir, di antaranya KH. Ahmad Sa’duddin (Mustasyar PCNU), KH. Abdullah Kholil (mantan Ketua PCNU), KH. Hafidzidi Syarbini (mantan Rais Syuriah PCNU), KH. Washil Hasyim (Rais Syuriah PCNU terpilih), serta KH. Widaji (Ketua PCNU terpilih).
Hadir pula budayawan dan sastrawan nasional KH. D. Zawawi Imron, serta KH. Hazmi Basyir, mantan Bendahara DPC PKB.

Rangkaian acara diawali dengan istighasah, dilanjutkan sambutan Ketua DPC PKB dan tausiyah kebangsaan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang spiritual, tetapi juga panggung peneguhan arah perjuangan politik PKB ke depan.
Ketua DPC PKB Sumenep, KH. Imam Hasyim, S.H., M.H., menegaskan bahwa peringatan Haul Gus Dur merupakan refleksi sejarah sekaligus penegasan identitas ideologis PKB sebagai partai yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama.
“Gus Dur telah dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. Beliau adalah tokoh pluralisme dan pendiri PKB. Karena itu, tidak boleh ada keraguan: PKB adalah kepanjangan tangan politik warga NU. Diakui atau tidak, PKB adalah anak tunggal dari rahim NU,” tegas KH. Imam Hasyim.
Pengasuh Ponpes At-Taufiqiyah Bluto itu menambahkan, pelaksanaan PKP Loyalis menjadi instrumen penting untuk memastikan kader PKB tetap tegak lurus dalam satu garis perjuangan ideologis dan struktural.

“Dalam waktu dekat, PKP Loyalis akan kami laksanakan hingga tingkat PAC di seluruh kecamatan. Ini bagian dari konsolidasi total. Sudah saatnya PKB merebut kembali kejayaan, baik di eksekutif maupun legislatif, dengan ideologi yang jelas dan kokoh: Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah,” ujarnya menambahkan.
Sementara itu, dalam tausiyahnya, KH. D. Zawawi Imron mengingatkan agar PKB tidak pernah tercerabut dari akar sejarah dan nilai etik perjuangannya sebagai partai yang dilahirkan oleh NU.
“PKB tidak boleh berpisah dari orang tuanya. Perjuangan politik harus dijalankan dengan akhlaqul karimah, saling menghargai, tegak lurus, dan pantang mundur. Perbanyak dzikir dan perkuat silaturahim agar perjuangan tetap bernilai ibadah,” pesan KH. D. Zawawi Imron.
Melalui peringatan Haul Gus Dur dan PKP Loyalis ini, PKB menegaskan diri sebagai partai ideologis, bukan sekadar kendaraan elektoral. Sebuah gerakan politik yang berakar pada nilai keislaman Aswaja, menjunjung kemanusiaan, serta setia pada warisan pemikiran dan keteladanan Gus Dur (REDJAVA****)












