Halalbihalal Dipopulerkan Oleh Salah Satu Pendiri NU, KH Wahab Chasbullah

Rabu, 4 Mei 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Sukarno Dan KH.Wahab Chasbullah

Presiden Sukarno Dan KH.Wahab Chasbullah

JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP Diceritakan bahwa Presiden Sukarno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara dan dimintai pendapatnya untuk mengatasi kerenggangan para pejabat politik pada masa itu.

Menjawab pertanyaan Bung Karno, KH Wahab Chasbullah mengusulkan untuk diadakan acara silaturahmi. Kebetulan saat itu menjelang Hari Raya Idulfitri 1367 H, maka beliau mengusulkan agar diselenggarakan acara halalbihalal.

“Para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu ‘kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa [haram], maka harus dihalalkan,”kata Kiai Wahab, sebagaimana dilansir NU Online.

“Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan, sehingga silaturrahim nanti kita pakai istilah halalbihalal,” lanjutnya.

Berkat usulan KH Wahab Chasbullah, acara halalbihalal kian populer dan terus diselenggarakan hingga sekarang.

Quraish Shihab memandang bahwa tradisi halalbihalal merupakan pribumisasi ajaran Islam di masyarakat Indonesia. Kendati demikian, jika lacak dalam bahasa Arab, terdapat sejumlah pendekatan untuk memaknai halalbihalal.

Pertama, halal dalam hukum Islam merupakan lawan dari haram. Perbuatan haram merupakan laku dosa yang diancam dengan siksa neraka. Karena itulah, pemaknanaan halalbihalal dapat dipahami sesuai konteks yang pernah disampaikan KH Wahab Chasbullah kepada Presiden Sukarno pada 1948.

Dalam artian ini, halalbihalal adalah aktivitas untuk “menghalalkan” hubungan tak harmonis (haram). Artinya, halalbihalal bertujuan untuk harmonisasi relasi yang renggang atau malah sebelumnya bermusuhan.

Dalam hal ini, acara halalbihalal menjadi ajang untuk mendamaikan hubungan yang keruh agar jernih. Jika hubungan itu kusut, maka acara halalbihalal diharapkan menjadi media untuk meluruskan hubungan tersebut.

Makna demikian sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

“Bukanlah bersilaturrahim orang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi yang bersilaturahmi adalah yang menyambung apa yang putus,” (H.R. Bukhari).

Berita Terkait

Eksekusi Tanah dan Bangunan di Sumenep Berlangsung Kondusif, Polisi Kedepankan Pendekatan Humanis
Mobil Perpusling Dispusip Sumenep Hadir di SDN Taman Sare 1, Dorong Penguatan Literasi Siswa Sejak Dini
DWP Sumenep Genjot Daya Saing UMKM Lewat Pelatihan Packaging Produk di Era Digital
Kendaraan Listrik Bebas PKB dan Bea Balik Nama, Ini Penjelasan UPT PPD Sumenep
Hari Tarwiyah Penuh Berkah, Sertifikat Tanah Kantor MWCNU Lenteng Akhirnya Terbit
Satlantas Polres Sumenep Tanamkan Budaya Tertib Lalu Lintas Sejak Dini Lewat Program Polisi Sahabat Anak
Opgab Kepatuhan Pajak Kendaraan di Sumenep Berlangsung Humanis, Pelanggar Tetap Ditindak Tegas
Bupati Sumenep Dianugerahi Penghargaan Nasional dari Kemendikdasmen RI di FTBIN 2026

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 23:14 WIB

Eksekusi Tanah dan Bangunan di Sumenep Berlangsung Kondusif, Polisi Kedepankan Pendekatan Humanis

Senin, 25 Mei 2026 - 22:01 WIB

Mobil Perpusling Dispusip Sumenep Hadir di SDN Taman Sare 1, Dorong Penguatan Literasi Siswa Sejak Dini

Senin, 25 Mei 2026 - 20:28 WIB

DWP Sumenep Genjot Daya Saing UMKM Lewat Pelatihan Packaging Produk di Era Digital

Senin, 25 Mei 2026 - 19:52 WIB

Kendaraan Listrik Bebas PKB dan Bea Balik Nama, Ini Penjelasan UPT PPD Sumenep

Senin, 25 Mei 2026 - 19:20 WIB

Hari Tarwiyah Penuh Berkah, Sertifikat Tanah Kantor MWCNU Lenteng Akhirnya Terbit

Berita Terbaru