GOW Sumenep Gaungkan Alarm Bahaya: Stunting dan Campak Ancam Masa Depan Anak Bangsa

Senin, 6 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GOW Sumenep Gaungkan Alarm Bahaya: Stunting dan Campak Ancam Masa Depan Anak Bangsa

GOW Sumenep Gaungkan Alarm Bahaya: Stunting dan Campak Ancam Masa Depan Anak Bangsa

JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Ancaman besar tengah membayangi generasi muda Indonesia. Dua penyakit yang tampak berbeda, namun sama-sama berbahaya: stunting dan campak.
Dua kata itu kini menjadi sorotan serius dalam kegiatan Sosialisasi Pencegahan Stunting bertema “Generasi Sehat Tanpa Stunting dan Campak” yang digelar oleh Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Sumenep, Senin (6/10/2025), di Aula Kantor PKK Kabupaten Sumenep.

Kegiatan yang dihadiri jajaran pengurus GOW dan perwakilan berbagai organisasi perempuan ini menghadirkan pakar kesehatan anak dari Universitas Airlangga Surabaya, Dr. Dominicus Husada, dr., DTM&H., MCTM(TP)., Sp.A(K), sebagai narasumber utama.

Suasana mendadak hening ketika sang dokter membeberkan fakta mencengangkan tentang bahaya stunting dan campak bagi anak-anak Indonesia.

 

“Stunting bukan sekadar tubuh anak yang pendek. Itu tanda bahwa anak mengalami kekurangan gizi kronis dalam waktu lama. Prosesnya bisa dimulai sejak masa kehamilan dan berlanjut bila tidak ada intervensi tepat,” ujar Dr. Dominicus.

Ia menegaskan bahwa tidak ada solusi instan dalam menghadapi masalah gizi kronis ini. Karena, menurutnya, setiap anak memiliki penyebab dan kondisi yang berbeda.

“Masalah gizi primer terjadi karena asupan yang kurang, sementara gizi sekunder bisa karena anak sering sakit atau tubuhnya tidak mampu menyerap gizi dengan baik. Karena itu, solusi tidak boleh seragam,” tegasnya.

Penjelasan itu membuat banyak peserta terdiam. Sebagian bahkan tampak merenung, menyadari bahwa stunting bukan hanya urusan tinggi badan, melainkan ancaman jangka panjang terhadap kecerdasan dan daya tahan anak.

Baca Juga :  Apel Siaga Nataru, Upaya Rutan Cipkon Kamtib Tetap Terjaga

Selain stunting, Dr. Dominicus juga memberi peringatan keras terhadap meningkatnya kasus campak di sejumlah daerah Indonesia. Ia menyebut penyakit ini sebagai “pembunuh diam-diam” yang sering diremehkan masyarakat.

“Satu anak penderita campak dapat menulari hingga 19 anak lain. Campak adalah pembunuh anak nomor lima di dunia padahal pencegahannya sederhana: imunisasi lengkap,” ungkapnya.

Menurutnya, penyakit ini bukan hanya soal ruam merah dan demam tinggi. Ada bahaya yang jauh lebih besar mengintai di baliknya.

“Setelah terkena campak, anak bisa kehilangan daya tahan tubuh terhadap penyakit lain selama 4 minggu hingga 2 tahun. Jadi, risiko kematian bukan hanya karena campak, tapi infeksi lain yang datang setelahnya,” jelasnya.

Lebih parah lagi, ketika campak menyerang anak yang sudah mengalami stunting.

“Anak yang sudah stunting memiliki sistem pertahanan tubuh yang lemah. Ketika terkena campak, dampaknya jauh lebih berat dibanding anak sehat. Inilah mengapa penanganan kedua masalah ini harus berjalan bersamaan, tidak terpisah,” ujarnya penuh penekanan.

Melalui kegiatan sosialisasi ini, organisasi yang menaungi berbagai unsur perempuan lintas profesi dan lembaga ini menegaskan peran penting kaum ibu dalam menyelamatkan masa depan generasi bangsa melalui edukasi gizi dan imunisasi.

Baca Juga :  Relawan Naghfir's Institute Akan Hadir Membawa Harapan untuk Aceh dan Sumatera

Di penghujung acara, Dr. Dominicus menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak pemerintah daerah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat untuk menuntaskan dua ancaman besar ini.

“Tidak ada solusi cepat untuk masalah stunting dan campak. Tapi jika kita bergerak bersama lintas sektor, lintas profesi, dan melibatkan masyarakat hasilnya akan nyata jangka panjang. Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi generasi Indonesia akan tumbuh lebih sehat, cerdas, dan tangguh,” tutupnya. (REDJAVA****)

Berita Terkait

Transformasi ASN Sumenep: Bupati Fauzi Luncurkan Aplikasi SIMANTRA demi Layanan Publik Unggul
Rakercab Pramuka Sumenep 2026, Bupati Fauzi Soroti Ancaman Media Sosial bagi Anak
Helmi Art Museum Dukung Pengembangan Keris Sumenep, Siap Jaga Warisan Budaya Leluhur
Sensus 2026 hingga SILAPOR 112, Ini 3 Instruksi Penting Kepala Diskominfo Sumenep ke ASN
Wejangan Bupati Fauzi saat Sambut Kepulangan Jemaah Haji Kloter 77-81
Momentum Hari Asyura, Koramil Sapudi dan Masjid Baitul Bilad Sumenep Basuh Air Mata Anak Yatim
Berburu Bumbu Masak Instan di Pasar Jangara: Solusi Praktis, Murah dan Ramah di Kantong
Membanggakan! Atlet Muda Asal ‘Kota Keris’ Sumenep Dipanggil PASI Jatim untuk Kejurnas Atletik 2026 di Jakarta

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 19:41 WIB

Transformasi ASN Sumenep: Bupati Fauzi Luncurkan Aplikasi SIMANTRA demi Layanan Publik Unggul

Senin, 22 Juni 2026 - 17:19 WIB

Rakercab Pramuka Sumenep 2026, Bupati Fauzi Soroti Ancaman Media Sosial bagi Anak

Senin, 22 Juni 2026 - 11:57 WIB

Helmi Art Museum Dukung Pengembangan Keris Sumenep, Siap Jaga Warisan Budaya Leluhur

Senin, 22 Juni 2026 - 09:00 WIB

Wejangan Bupati Fauzi saat Sambut Kepulangan Jemaah Haji Kloter 77-81

Minggu, 21 Juni 2026 - 22:35 WIB

Momentum Hari Asyura, Koramil Sapudi dan Masjid Baitul Bilad Sumenep Basuh Air Mata Anak Yatim

Berita Terbaru