JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Upaya menekan angka pernikahan dini terus digencarkan Pemerintah Kabupaten Sumenep. Sekitar 100 anggota dari berbagai organisasi kewanitaan di Kabupaten Sumenep memadati Kantor TP PKK Sumenep untuk mengikuti Sosialisasi Pencegahan Pernikahan Anak, kegiatan ini digelar oleh GOW Kabupaten Sumenep yang diketuai Nia Kurnia Fauzi.
Siti Nur Asiyah, sebagai wakil ketua III mewakili Ketua GOW Nia Kurnia Fauzi, menekankan pentingnya peran perempuan sebagai motor penggerak perubahan. Siti Nur Asiyah mengajak peserta untuk menyebarkan pesan sosialisasi ke seluruh jaringan organisasi mereka, sehingga efeknya dapat dirasakan langsung di masyarakat.
“Materi ini jangan berhenti di sini. Terus sebarkan melalui kegiatan, pertemuan, dan komunikasi sehari-hari. Kita harus menjadi teladan di keluarga dan masyarakat agar anak-anak bisa tumbuh dengan pendidikan yang layak, kesehatan terjamin, dan masa depan lebih baik,” ujar Siti Nur Asiyah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menegaskan, pernikahan dini bukan sekadar persoalan sosial, tetapi juga berisiko menimbulkan masalah kesehatan reproduksi, putus sekolah, hingga kemiskinan baru. Perlindungan terhadap anak-anak, terutama perempuan, menjadi tanggung jawab bersama.
Acara ini juga dihadiri Kepala Kemenag Sumenep, Abdul Wasid, M.Pd, yang hadir sebagai narasumber. Ia menekankan bahwa pernikahan bukan sekadar ikatan lahir batin, tetapi fondasi bagi terciptanya keluarga sakinah yang sehat, harmonis, dan produktif.
“Kami tidak hanya memberikan layanan administratif pernikahan, tetapi juga edukasi sejak dini. Anak-anak, remaja, hingga calon pengantin perlu bimbingan agar siap secara fisik, mental, dan spiritual membangun keluarga sakinah,” kata Abdul Wasid.
Abdul Wasid memaparkan sejumlah program preventif Kemenag Sumenep, mulai dari Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP), Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS), Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN), hingga Bimbingan Perkawinan (Bimwin). Program inovatif seperti KUA Goes to School, Pojok Cinta, Gemini (Gerakan Mencegah Pernikahan Dini), dan Geliat (Gerakan Lajang Indonesia Anti Tergesa Nikah) juga diperkenalkan.
“Semua program ini bukan sekadar sosialisasi. Ini adalah langkah nyata menyelamatkan generasi agar anak-anak Sumenep tumbuh sehat, berpendidikan, dan siap menghadapi masa depan,” ujar Abdul Wasid.
Kolaborasi lintas sektor juga dijalankan, termasuk dengan BKKBN dan Dinas Kesehatan, melalui pemeriksaan kesehatan calon pengantin di puskesmas. Peserta yang memenuhi syarat akan mendapatkan sertifikat siap nikah dan hamil, sedangkan yang belum akan menerima pendampingan kesehatan lebih lanjut.
Abdul Wasid menegaskan, tujuan seluruh program ini adalah terciptanya keluarga sakinah yang berlandaskan keadilan, kasih sayang, musyawarah, dan kemaslahatan umum.
“Keluarga sakinah adalah keluarga yang bahagia lahir batin, penuh ketenangan, dan mampu memberikan kebaikan kepada sesama. Pilar penting bagi masa depan bangsa,” ujarnya.
Melalui kolaborasi GOW, dan program Kemenag, Sumenep menargetkan penurunan signifikan angka pernikahan dini. Jika berhasil, lahirlah generasi emas yang sehat, berpendidikan, berakhlak, dan berdaya saing tinggi dari bumi Sumekep.
“Kalau keluarga sakinah terbentuk, lahirlah generasi emas yang sehat dan berdaya saing. Ini bukan hanya untuk Sumenep, tapi untuk Indonesia,” pungkas Abdul Wasid. (REDJAVA****)










