JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Lantunan gema takbir yang menggema di seluruh penjuru Kabupaten Sumenep pada malam Idul Fitri 1447 Hijriah menghadirkan suasana syahdu penuh haru.
Di tengah semarak malam kemenangan itu, Wakil Bupati Sumenep, KH Imam Hasyim, S.H.,M.H., menyampaikan pesan mendalam yang mengajak umat Islam untuk tidak berhenti pada euforia perayaan semata.
Menurutnya, malam takbiran bukan hanya tradisi tahunan, melainkan momentum spiritual untuk merefleksikan hasil perjalanan selama bulan suci Ramadhan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Malam takbiran adalah ungkapan syukur kita atas kemenangan. Namun di balik itu, ada pesan besar bahwa inilah awal dari ujian iman yang sesungguhnya,” kata Wabup KH. Imam Hasyim dalam keterangan tertulis, Jum’at (20/03/2025) malam.
Sosok orang nomor dua di kabupaten Sumenep itu menegaskan bahwa keberhasilan menjalankan puasa selama satu bulan penuh harus dibuktikan dengan konsistensi dalam menjaga nilai-nilai kebaikan setelah Ramadhan berakhir.
“Setelah Ramadhan, kita diuji. Apakah kita mampu menjaga diri dari hawa nafsu, atau justru kembali pada kebiasaan lama yang menjauhkan dari ridha Allah,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa gema takbir yang dikumandangkan tidak boleh berhenti di lisan, tetapi harus terwujud dalam perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Jangan sampai takbir hanya menggema di mulut, tetapi tidak membekas dalam hati dan amal perbuatan kita,” ujarnya.
Lebih jauh, Wabup Sumenep yang juga Ketua DPC PKB Sumenep itu menekankan pentingnya menjadikan Ramadhan sebagai madrasah pembentukan karakter spiritual yang berkelanjutan.

“Ramadhan telah melatih kita selama sebulan penuh. Tugas kita sekarang adalah menjaga hasil latihan itu dalam sebelas bulan ke depan,” ungkap KH. Imam Hasyim.
Dalam pesannya yang kuat, KH Imam Hasyim juga menyoroti ibadah sholat sebagai kunci utama dalam menjaga kemenangan Ramadhan.
“Sholat adalah barometer kehidupan kita. Jika sholat terjaga, maka amal lainnya akan mengikuti. Inilah kunci keselamatan kita di alam baqa’,” pungkasnya.
Gema takbir malam Idul Fitri di Sumenep pun tak hanya menjadi simbol kemenangan, tetapi juga pengingat bahwa perjalanan spiritual sejati justru dimulai setelah Ramadhan usai sebuah ujian iman yang harus dijaga hingga akhir hayat. (REDJAVA****)










