JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Sebuah pesan mendalam tentang filosofi keris kembali menjadi perbincangan di kalangan budayawan dan seniman.
Kalimat “Ujung keris itu bukan untuk melukai, tapi sejauh mana kamu memakai ketajaman fikiranmu untuk melakukan terobosan yang kau yakini itu benar” mencerminkan makna yang lebih luas tentang kebijaksanaan dan inovasi.
Helmi, owner Helmi Art Museum, menegaskan bahwa keris bukan sekadar senjata, melainkan simbol pemikiran tajam yang diarahkan untuk kebaikan.
“Dalam dunia seni dan budaya, kita harus memiliki ketajaman berpikir seperti keris. Bukan untuk menyakiti, tapi untuk mengukir sesuatu yang baru, membentuk arah perubahan yang bermakna,” ujar Helmi kepada media ini, Kamis (6/2/25).
Senada dengan itu, Santoso Sera, pemilik Besalen Santoso Sera, bengkel pembuatan keris di Sumenep, menjelaskan bahwa keris dibuat dengan filosofi mendalam.
“Keris itu bukan hanya benda pusaka, tapi juga representasi dari kebijaksanaan. Ujungnya yang runcing bukan untuk menusuk, tapi melambangkan ketajaman visi dan strategi dalam menjalani hidup,” jelasnya.
Menurut keduanya, filosofi ini dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam dunia seni, bisnis, maupun kepemimpinan. Ketajaman berpikir harus diarahkan untuk membangun, bukan merusak.
“Di tengah perkembangan zaman, nilai-nilai kearifan lokal seperti ini justru semakin relevan untuk dijadikan pedoman dalam berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan,” pungkasnya. (REDJAVA****)











