JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Wacana pergantian Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumenep mulai mengemuka dan menjadi perbincangan hangat di ruang publik. Posisi strategis yang kerap disebut sebagai “panglima birokrasi” itu dinilai harus diisi oleh sosok yang tidak hanya cakap secara administratif, tetapi juga memiliki kepemimpinan visioner, integritas kuat, serta kepekaan terhadap persoalan riil masyarakat.
Aktivis senior Sumenep, Ainurrahman, menegaskan bahwa Sekda bukan sekadar jabatan struktural, melainkan motor penggerak utama efektivitas pemerintahan daerah.
“Sekda itu jantung birokrasi. Kalau jantungnya lemah, maka seluruh sistem pemerintahan akan berjalan pincang. Sumenep butuh Sekda yang kuat secara kapasitas, bukan sekadar aman secara politik,” kata Ainurrahman kepada media ini, Senin (26/01/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, kompleksitas wilayah Sumenep yang mencakup daratan dan kepulauan menuntut Sekda yang mampu bekerja cepat, responsif, serta mampu menerjemahkan visi kepala daerah ke dalam kebijakan teknokratis yang konkret.
“Sekda ideal harus visioner, tegas, dan adaptif. Ia harus mampu membaca tantangan zaman, mulai dari digitalisasi birokrasi, pengelolaan fiskal, hingga persoalan sosial yang menyentuh langsung masyarakat bawah,” ujarnya.
Sejumlah karakteristik dinilai mutlak dimiliki calon Sekda Sumenep ke depan, antara lain kepemimpinan yang kuat dan profesional, kompetensi manajerial pemerintahan, integritas dan etika kerja yang tinggi, kemampuan komunikasi lintas sektor, serta pemanfaatan teknologi dan inovasi dalam tata kelola pemerintahan.
Dalam dinamika tersebut, beberapa nama pejabat eselon II di lingkungan Pemkab Sumenep mulai disebut-sebut publik sebagai figur potensial. Mereka dinilai memiliki rekam jejak dan pengalaman birokrasi yang mumpuni di bidangnya masing-masing.
Di antaranya Ir. Eri Susanto, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR), yang dikenal kuat dalam pengelolaan infrastruktur dan proyek strategis daerah. Dr. Ir. Arif Firmanto, Kepala Bappeda, dinilai unggul dalam perencanaan pembangunan dan sinkronisasi kebijakan berbasis data.
Nama lain yang turut mencuat adalah Chainur Rasyid (Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian) dengan pengalaman di sektor agraris, Abd. Rahman Riadi (Dinsos) yang kuat dalam perspektif sosial, serta Ferdiansyah Tetrajaya (Bapenda) yang memiliki kapasitas dalam pengelolaan pendapatan daerah.
Selain itu, terdapat Moh. Ramli (Diskop UKM dan Perindag) yang fokus pada penguatan ekonomi kerakyatan, Moh. Iksan (Dinas Pendidikan) dalam pengembangan sumber daya manusia, serta Ach. Dzulkarnaen (Bakesbangpol) yang dinilai berpengalaman dalam menjaga stabilitas politik dan sosial daerah.
Ainurrahman mengingatkan agar proses penentuan Sekda tidak terjebak pada pendekatan formalitas atau kepentingan jangka pendek.
“Penunjukan Sekda harus berbasis merit system. Jangan sampai jabatan sepenting ini diisi hanya karena kedekatan atau kompromi elite. Dampaknya bisa panjang dan merugikan publik,” tegasnya.
Lebih lanjut dirinya menambahkan, Sekda yang kuat justru akan memperkuat kepala daerah, bukan sebaliknya.
“Sekda yang berintegritas dan berani mengambil keputusan akan menjadi mitra strategis kepala daerah. Di situlah pemerintahan bisa berjalan efektif, bersih, dan dipercaya rakyat,” pungkas Ainurrahman.
Menguatnya diskursus publik ini menandakan tingginya harapan masyarakat terhadap sosok Sekda Sumenep ke depan figur yang mampu menjadi nahkoda birokrasi di tengah tuntutan transparansi, percepatan pembangunan, dan pelayanan publik yang semakin kritis. (REDJAVA/$$$)










