Fenomena Kemarau Basah di Sumenep: Banjir Melanda Kota saat Musim Harusnya Kering

Sabtu, 17 Mei 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala BMKG Sumenep Ari Widjajanto

Kepala BMKG Sumenep Ari Widjajanto

JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Musim kemarau yang mestinya membawa langit cerah dan udara kering, justru diwarnai genangan air dan hujan deras di Kabupaten Sumenep.

Ironi cuaca ini menjadi pemandangan tak biasa pada pertengahan Mei 2025, ketika banjir melumpuhkan sejumlah titik di kawasan kota.

Air merangsek ke pemukiman, menutup jalanan, dan memaksa aktivitas warga melambat.

Yang mengejutkan, kejadian ini tak termasuk dalam daftar wilayah rawan bencana versi BMKG Jawa Timur. Namun alam berkata lain: air bah tetap datang, tanpa aba-aba.

Kepala BMKG Kalianget Sumenep, Ari Widjajanto, menyebut banjir kali ini dipicu oleh kombinasi langka antara curah hujan tinggi dan air laut yang sedang pasang.

“Curah hujan memang deras, tapi yang memperparah situasi adalah air laut yang juga sedang naik. Ketika keduanya terjadi bersamaan, maka tak ada ruang bagi air untuk mengalir. Akibatnya, banjir pun tak terhindarkan,” terang Ari, Sabtu (17/5/2025).

Fenomena ini, lanjut Ari, tak bisa dilepaskan dari dinamika cuaca global yang kini kian tak menentu.

Baca Juga :  Sarat Haru! Peringatan Maulid Nabi di PPDS Sumenep Angkat Derajat Kaum Disabilitas

Indonesia sebenarnya sudah memasuki masa peralihan musim dari hujan ke kemarau. Namun proses transisi itu tidak berjalan mulus.

“Angin timuran yang menjadi penanda musim kemarau seharusnya sudah mulai bertiup. Tapi sampai sekarang belum efektif karena badai di selatan Australia yang biasanya memicu angin tersebut belum terbentuk. Yang ada hanya bibit-bibit badai, bukan badai utuh,” jelasnya.

Akibatnya, hujan masih terjadi di berbagai wilayah, termasuk Sumenep.

Baca Juga :  10 Hari Terakhir di Bulan Ramadhan 1445 H, Keluarga Besar Kejari Sumenep Gelar Bukber Anak Yatim

Kondisi inilah yang dikenal sebagai kemarau basah ketika musim kering tetap dihiasi curah hujan dalam intensitas tertentu.

“Secara kasat mata memang tampak seperti musim hujan. Padahal secara kalender kita sudah masuk kemarau. Ini yang sering membuat masyarakat lengah, padahal potensi bencana seperti banjir dan longsor masih mengintai,” tambahnya.

BMKG mengingatkan bahwa kemarau basah membawa risiko tersendiri, terutama di wilayah dengan drainase buruk atau topografi yang rawan longsor.

Baca Juga :  Mahasiswa Indonesia di Tiongkok Bangun Menara Air di Kepulauan Sumenep, Warga Sepangkur Kini Tak Lagi Kesulitan Air Bersih

Namun secara umum, potensi petir dan angin puting beliung di Sumenep diperkirakan tetap rendah.

Fenomena ini menjadi isyarat bahwa perubahan iklim bukan sekadar wacana akademik, melainkan kenyataan yang sudah mengetuk pintu rumah warga.

Banjir di musim kemarau hanyalah salah satu dari banyak anomali yang akan terus terjadi jika manusia tidak segera beradaptasi.

“Masyarakat perlu lebih peka terhadap perubahan cuaca, tidak hanya mengandalkan musim sebagai patokan. Karena saat ini, cuaca tidak lagi bicara dengan pola lama,” pungkas Ari. (REDJAVA****)

Berita Terkait

Transformasi ASN Sumenep: Bupati Fauzi Luncurkan Aplikasi SIMANTRA demi Layanan Publik Unggul
Rakercab Pramuka Sumenep 2026, Bupati Fauzi Soroti Ancaman Media Sosial bagi Anak
Helmi Art Museum Dukung Pengembangan Keris Sumenep, Siap Jaga Warisan Budaya Leluhur
Sensus 2026 hingga SILAPOR 112, Ini 3 Instruksi Penting Kepala Diskominfo Sumenep ke ASN
Wejangan Bupati Fauzi saat Sambut Kepulangan Jemaah Haji Kloter 77-81
Momentum Hari Asyura, Koramil Sapudi dan Masjid Baitul Bilad Sumenep Basuh Air Mata Anak Yatim
Berburu Bumbu Masak Instan di Pasar Jangara: Solusi Praktis, Murah dan Ramah di Kantong
Membanggakan! Atlet Muda Asal ‘Kota Keris’ Sumenep Dipanggil PASI Jatim untuk Kejurnas Atletik 2026 di Jakarta

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 19:41 WIB

Transformasi ASN Sumenep: Bupati Fauzi Luncurkan Aplikasi SIMANTRA demi Layanan Publik Unggul

Senin, 22 Juni 2026 - 17:19 WIB

Rakercab Pramuka Sumenep 2026, Bupati Fauzi Soroti Ancaman Media Sosial bagi Anak

Senin, 22 Juni 2026 - 11:57 WIB

Helmi Art Museum Dukung Pengembangan Keris Sumenep, Siap Jaga Warisan Budaya Leluhur

Senin, 22 Juni 2026 - 10:40 WIB

Sensus 2026 hingga SILAPOR 112, Ini 3 Instruksi Penting Kepala Diskominfo Sumenep ke ASN

Minggu, 21 Juni 2026 - 22:35 WIB

Momentum Hari Asyura, Koramil Sapudi dan Masjid Baitul Bilad Sumenep Basuh Air Mata Anak Yatim

Berita Terbaru