JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Dalam dua malam berturut-turut, Kabupaten Sumenep dikejutkan oleh dua peristiwa kebakaran di lokasi berbeda. Api berkobar di Desa Juluk, Kecamatan Saronggi, pada Senin (13/10/2025) malam, disusul dengan kobaran api di Desa Kebonagung, Kecamatan Kota Sumenep, pada Selasa (14/10/2025) petang.
Laporan pertama diterima melalui sistem SiLaPor 112 pada pukul 22.00 WIB. Seorang warga bernama Joko melapor bahwa sebuah rumah di dekat kediaman Kepala Desa Juluk terbakar hebat. Tim Command Center 112 segera mengirimkan notifikasi darurat kepada Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Bidang Pemadam Kebakaran Kabupaten Sumenep.
Tanpa menunggu lama, regu siaga Damkar bergerak menuju lokasi dengan kendaraan tangki air dan peralatan pemadam lengkap. Warga sekitar sempat panik lantaran api cepat membesar akibat angin malam yang cukup kencang. Namun, berkat gerak cepat tim gabungan, si jago merah berhasil dikendalikan sebelum merembet ke rumah lain.

“Begitu menerima laporan dari SiLaPor 112, kami langsung turunkan personel ke lokasi. Situasi malam itu cukup menegangkan, tapi berkat koordinasi cepat, api berhasil kita padamkan sekitar satu jam setelah laporan masuk,” ujar Kabid Damkar Satpol PP Sumenep, Sugiyanto, mewakili Kasatpol PP Kabupaten Sumenep, Selasa (14/10/2025) malam.
Belum genap 24 jam, laporan kebakaran kembali masuk ke pusat kendali 112. Kali ini, Selasa (14/10/2025) sekitar pukul 19.39 WIB, seorang warga bernama Ranu melaporkan terjadinya kebakaran lahan di area barat Asta Tinggi, Desa Kebonagung.
Petugas SiLaPor 112 kembali mengaktifkan jalur cepat penanganan darurat, menghubungkan laporan dengan tim Damkar Satpol PP. “Kami langsung menurunkan dua unit mobil pemadam dan empat personel ke titik api. Lahan yang terbakar cukup luas, tapi bisa segera dikendalikan setelah kurang lebih tiga puluh menit operasi,” jelas Sugiyanto.

Menurutnya, kondisi cuaca panas dan tiupan angin kering menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran api di sejumlah titik lahan terbuka. Ia pun mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran sampah atau lahan secara sembarangan, terutama di musim kemarau panjang.“Kami mengingatkan warga agar tidak membakar sampah di pekarangan tanpa pengawasan. Api kecil bisa menjadi besar hanya dalam hitungan menit,” tegasnya.
Sugiyanto juga menegaskan, sistem SiLaPor 112 telah berperan penting dalam mempercepat respon darurat, karena setiap laporan masyarakat langsung terhubung ke pusat kendali dan diteruskan ke instansi terkait.“Kecepatan laporan warga menjadi kunci. Begitu 112 menerima informasi, koordinasi langsung terjadi antara Command Center, Damkar, dan aparat setempat. Ini bukti sistem darurat kita bekerja efektif,” tambahnya.
Meski dua kejadian tersebut tidak menimbulkan korban jiwa, Damkar Satpol PP masih melakukan pendataan terhadap potensi kerugian dan penyebab awal kebakaran. “Kami terus lakukan asesmen di lapangan untuk memastikan semua aman dan tidak ada sisa bara yang bisa memicu kebakaran susulan,” pungkas Sugiyanto. (REDJAVA****)












