JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di antara temaram pagi menjelang siang di Bluto yang bersahaja, sebuah pertemuan bersejarah lahir dari keheningan yang penuh makna.
Bukan sekadar kunjungan formal, namun perjumpaan dua arus kekuatan moral antara pemimpin spiritual pesantren dan penggerak kader muda Nahdliyin yang mengguratkan pesan kebangsaan dari jantung Pulau Madura.
Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Nasyrul Ulum Aeng Dake, Bluto Dr. KH Zamzami Sabiq, M.Psi., menerima kedatangan H. Musaffa Safril, Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur sekaligus CEO Esbeha, dalam suasana yang penuh keakraban dan kesahajaan.
Silaturrahmi ini jauh dari sekadar perjumpaan fisik. Ia adalah ikhtiar peradaban menghidupkan kembali percakapan luhur tentang bangsa, iman, dan generasi di tengah gelombang zaman yang sering kali kehilangan arah.
“Pesantren bukan hanya tempat belajar agama. Ia adalah rahim bangsa. Di sinilah etika, cinta tanah air, dan adab sosial disulam jadi satu,” tutur KH Zamzami, Minggu (18/05/2025).
Pertemuan ini menjelma forum kultural yang menyentuh: sebuah dialog sunyi yang merangkul suara masa depan. Ketua Ansor Jatim, Musaffa Safril, menegaskan pentingnya membumikan nilai-nilai ke-NU-an di tengah tantangan digital, disrupsi moral, dan krisis identitas generasi muda.

“Gerakan pemuda hari ini bukan tentang seragam dan slogan. Ini tentang hadirnya nilai dalam kehidupan umat. Kita butuh lebih banyak ruang seperti ini: jernih, jujur, dan berpihak pada rakyat kecil,” ungkap Safril sambil menyerahkan kenang-kenangan sarung khas Esbeha kepada KH Zamzami sebagai simbol persaudaraan yang melampaui waktu dan jabatan.
Sarung itu bukan sekadar kain. Ia adalah penanda peradaban lokal yang berjiwa nasional. Produk UMKM berbasis pesantren yang kini tumbuh menjadi ikon identitas santri Indonesia.
Di tangan para pemuda NU, ekonomi kerakyatan tak hanya dihidupkan, tapi juga dimuliakan.
Pertemuan itu kemudian berkembang menjadi diskusi strategis: dari penguatan pendidikan karakter, ketahanan spiritual masyarakat desa, hingga pentingnya kaderisasi kepemimpinan yang berpijak pada nilai, bukan hanya kepentingan politik sesaat.
“Silaturrahmi ini bukan akhir. Ia adalah awal dari kolaborasi besar. Kita rawat Indonesia dari pesantren. Dengan ilmu, akhlak, dan kasih sayang,” pungkas KH Zamzami,
Dari Bluto, sebuah pesan mengalir ke penjuru negeri: bahwa di tengah riuh rendah dunia digital, masih ada ruang sunyi yang merawat bangsa.
Dari pesantren, dari hati para kiai, dan dari semangat pemuda yang tak pernah letih menjaga merah putih di dada mereka. (REDJAVA****)











