JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di tengah geliat modernisasi dan tantangan sosial yang kian kompleks, Hari Kartini bukan sekadar perayaan simbolik.
Di Kabupaten Sumenep, Pulau Madura, semangat emansipasi justru bergema kuat dari balik tembok markas besar aparat penegak hukum.
Tepatnya dari sosok Kapolres Sumenep, AKBP Rivanda, S.I.K., yang mengangkat kembali api perjuangan Kartini melalui pesan yang menyentuh, tegas, dan penuh harapan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam momentum Hari Kartini, AKBP Rivanda menyampaikan sebuah pernyataan yang menyentuh hati banyak kalangan.
Ia tidak hanya mengucapkan selamat, tapi juga menyematkan semangat perjuangan dan relevansi emansipasi dalam konteks lokal dan nasional.
“Saya, Kapolres Sumenep AKBP Rivanda, S.I.K., beserta seluruh staf dan Bhayangkari, mengucapkan Selamat Hari Kartini, 21 April 2025. Semoga semangat Kartini selalu menginspirasi kita semua untuk terus berjuang demi kesetaraan dan kemajuan perempuan, khususnya di Kabupaten Sumenep yang kita cintai ini,” tuturnya kepada media ini, Senin (21/04/2025).
Bagi Rivanda, Hari Kartini bukan hanya peringatan tahunan, melainkan momen reflektif untuk mengukur sejauh mana bangsa ini terutama institusi negara telah berperan dalam membuka ruang keadilan bagi perempuan.
Ucapan dari seorang Kapolres memang bukan hal yang lazim jadi perbincangan viral pada Hari Kartini.
Namun, ketika pesan itu datang dari seorang pemimpin yang dikenal humanis, mengakar di masyarakat, dan memiliki rekam jejak kuat dalam membangun harmoni sosial, maka resonansinya menjadi lebih dari sekadar ucapan.
Ia menjelma sebagai narasi baru: bahwa polisi pun adalah bagian dari perjuangan emansipasi.
“Kartini adalah simbol keberanian. Ia melawan kebisuan, menantang kebodohan, dan berdiri untuk masa depan perempuan. Nilai itu yang harus terus kita hidupkan di tengah masyarakat, termasuk dari lembaga kepolisian,” jelasnya.
Sebagai pemimpin kepolisian di daerah yang kaya tradisi, kultur, dan juga tantangan sosial tersendiri, Rivanda meyakini bahwa kesetaraan bukan soal slogan, tapi soal peluang kesempatan yang sama bagi perempuan untuk mengenyam pendidikan, menjadi pemimpin, dan berkontribusi aktif dalam pembangunan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Sumenep telah mengalami lompatan budaya dan sosial yang signifikan. Banyak perempuan kini memimpin komunitas, menjadi pendidik, pengusaha, bahkan pejabat publik.
Namun di balik kemajuan itu, masih ada tantangan besar: kekerasan berbasis gender, rendahnya literasi perempuan desa, serta keterbatasan akses terhadap perlindungan hukum dan layanan sosial.
Itulah mengapa, suara dari sosok seperti Kapolres menjadi penting bahwa perubahan tidak hanya datang dari aktivis dan akademisi, tetapi juga dari aparatur negara yang memiliki pengaruh dan wewenang.
“Kepolisian harus jadi bagian dari solusi. Kami terus mendorong pendekatan humanis dalam menangani kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta membuka ruang komunikasi yang sehat dengan masyarakat,” tutupnya.
Hari ini, saat banyak pihak hanya mengenang Kartini dalam rupa bunga dan kebaya, Sumenep melangkah lebih jauh. Di tanah garam yang kaya nilai dan sejarah, semangat Kartini disuarakan oleh seorang polisi.
Tegas dalam tugas, hangat dalam keberpihakan. Dari kantor Polres hingga kampung-kampung di kepulauan, suara itu menyebar, menyalakan kembali obor perjuangan: bahwa perempuan adalah cahaya masa depan bangsa.
Dan seperti yang diyakini AKBP Rivanda:
“Habis gelap, jangan hanya terbit terang. Tapi juga terbit keadilan, kesempatan, dan kemanusiaan untuk semua.” (REDJAVA****)









