JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di tengah riuh arus lalu lintas jelang berbuka puasa, suasana berbeda terasa di ruas jalan Paseraman, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Sumenep.
Ratusan pengendara yang melintas mendadak disambut senyum ramah dan uluran tangan dari Komunitas Black Cobra membagikan takjil gratis dalam sebuah aksi sosial yang menyentuh.
Sebanyak 800 paket takjil dibagikan kepada masyarakat yang tengah berpacu dengan waktu menuju momen berbuka.
Tanpa sekat, tanpa syarat, aksi ini menjadi potret nyata kepedulian anak muda di pelosok kepulauan Madura.
Di balik kegiatan tersebut, Ketua Komunitas Black Cobra, Santo, berdiri sebagai motor penggerak.
Ia menyebut, kegiatan berbagi di bulan Ramadan bukan sekadar rutinitas, melainkan identitas komunitas yang terus dijaga dari tahun ke tahun.
“Ini bukan hanya soal berbagi makanan. Ini tentang menjaga rasa kemanusiaan dan kebersamaan di antara kami,” ujar Santo.
Namun, Santo tak menampik bahwa menjaga soliditas komunitas yang didominasi anak muda dengan latar belakang beragam bukan perkara sederhana.
Anggota Black Cobra tersebar di berbagai desa, bahkan hingga Kecamatan Kangayan menjadikan koordinasi sebagai tantangan tersendiri.
“Jumlah anggota terus bertambah. Dinamikanya juga semakin kompleks. Tapi justru di situlah letak kekuatan kami – kami belajar untuk tetap satu,” katanya.
Lebih dari sekadar komunitas, Black Cobra perlahan menjelma menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda untuk menyalurkan energi positif.
Tak hanya saat Ramadan, mereka aktif dalam kegiatan sosial seperti gotong royong dan aksi kemasyarakatan lainnya.
“Komunitas ini harus punya manfaat. Tidak boleh hanya eksis, tapi juga harus berdampak,” tegas Santo.
Harapan pun disematkan ke depan. Santo membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah daerah di Kabupaten Sumenep agar gerakan sosial yang mereka bangun dapat menjangkau lebih luas dan berkelanjutan.
Sementara itu, penasihat komunitas, Muhlis Fajar, menekankan pentingnya menjaga nilai dasar kebersamaan di tengah pertumbuhan anggota yang pesat.
Ia mengingatkan bahwa solidaritas tidak lahir dari kesamaan, melainkan dari sikap saling menghargai.
“Perbedaan itu pasti ada. Tapi selama kita saling menghormati, komunitas ini akan tetap kuat,” ungkapnya.
Aksi berbagi takjil yang dilakukan Black Cobra bukan sekadar kegiatan seremonial Ramadan. Lebih dari itu, ia menjadi simbol perlawanan terhadap apatisme bahwa di tengah perubahan zaman, semangat gotong royong dan kepedulian sosial masih hidup dan tumbuh di kalangan generasi muda.
Dan sore itu, di jalan Paseraman, pesan itu tersampaikan dengan sederhana melalui sebungkus takjil dan senyum yang tulus. (REDJAVA****)












