JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP — Pagi yang seharusnya tenang berubah menjadi lautan manusia di Masjid Almuqimin Paberasan, Sabtu (21/03/2026).
Ratusan warga memadati masjid yang dikenal dengan julukan Masjid Dua Kubah, bahkan hingga meluber ke halaman, dalam pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah.
Sejak usai Sholat Subuh, gema takbir, tahmid, dan tahlil menggema tanpa jeda. Suasana religius begitu terasa, mengiringi langkah jamaah yang datang dengan penuh suka cita menandai kemenangan setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa Ramadhan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tepat pukul 06.15 WIB, Sholat Idul Fitri dimulai dan dipimpin oleh Ustad Afdal S.Pd. Jalannya sholat berlangsung khusyuk, tertib, dan penuh penghayatan.
Namun, puncak refleksi justru terasa saat khutbah Idul Fitri yang disampaikan oleh Ustadz Mistari S.Ag. Dengan gaya penyampaian yang tegas namun menyentuh, ia mengajak jamaah merenungi makna sejati kemenangan di hari raya.
“Takbir yang kita kumandangkan sejak tadi malam hingga pagi ini, insyaAllah akan menjadi tameng dari api neraka dan menghadirkan syafaat bagi kita semua,” kata Ustadz Mistari S.Ag membuka khutbahnya.
Ia menegaskan, Ramadhan bukan sekadar ibadah rutin, melainkan proses panjang pembentukan jiwa yang harus terus dijaga setelahnya.
“Ramadhan telah mendidik kita selama 30 hari. Ini bukan akhir, tapi awal dari perubahan menuju pribadi yang lebih bertakwa,” tegasnya di hadapan ratusan jamaah.
Dalam khutbahnya, ia juga mengutip hadis Nabi Muhammad SAW tentang keutamaan ibadah Ramadhan.
“Siapa yang berpuasa dengan iman dan mengharap ridha Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Begitu pula yang menghidupkan malam-malamnya, terutama dalam mencari Lailatul Qadar,” ujar Ustadz Mistari.
Namun, ia mengingatkan bahwa hubungan antarmanusia tidak boleh diabaikan.

“Allah tidak akan mengampuni dosa seorang hamba jika ia masih memiliki kesalahan kepada sesama. Maka jangan tunda untuk meminta maaf,” ucapnya dengan nada serius.
Pesan paling kuat disampaikan saat ia mengajak jamaah untuk benar-benar kembali kepada fitrah dan menjaga perubahan yang telah ditempa selama Ramadhan.
“Semoga kita kembali dalam keadaan fitrah dan mampu istiqamah melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, setelah menjalani proses ibadah puasa Ramadhan selama 30 hari,” tuturnya penuh harap.
Menutup khutbahnya, ia memberikan ajakan reflektif yang menggugah kesadaran spiritual jamaah.
“Mari kita jaga hati, perbaiki diri, dan mulai dari yang paling dekat memohon maaf kepada orang tua, keluarga, dan sesama. Di situlah letak kesempurnaan Idul Fitri,” pungkas Ustadz Mistari.
Usai khutbah, suasana haru tak terbendung. Jamaah saling bersalaman, berpelukan, dan mengucapkan maaf lahir dan batin. Momen ini menjadi simbol kuat rekonsiliasi sosial yang terus hidup di tengah masyarakat.
Pelaksanaan Idul Fitri di Masjid Dua Kubah Paberasan tahun ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum kebangkitan spiritual.
Dari gema takbir hingga pesan khutbah yang menggugah, semuanya berpadu menjadi pengingat bahwa kemenangan sejati adalah ketika manusia mampu kembali fitrah dan istiqamah menjaga perubahan dalam kehidupannya. (REDJAVA****)










